Wonder Woman, Gal Gadot, dan Wabah Keberagaman

By Marnala Eros, Jun 7, 2017

Wonder Woman, Gal Gadot, dan Wabah Keberagaman

Selamat! Wonder Woman berhasil membuktikan kepada dunia, khususnya para eksekutif Hollywood, bahwa film yang disutradarai dan dibintangi wanita bisa berbicara banyak di box office. Pada penayangan minggu pertama, Wonder Woman sukses mengumpulkan $100.5 juta dari pasar domestik Amerika. Itu bukan sekadar perhitungan angka, namun berarti banyak bagi kaum yang selama ini dipandang melalui sedikit sudut kacamata.

Lewat film superhero wanita solo pertama dalam lebih dari satu dekade terakhir, Patty Jenkins menjadi sutradara wanita pertama yang menyutradarai film superhero. Hebatnya, dia mencetak rekor debut box office untuk kategori sutradara wanita; pemuncak sebelumnya adalah Sam Taylor-Johnson (Fifty Shades of Grey) pada 2015.

Oh, ternyata porsi wanita di Hollywood masih sangat minim? Ya, bagi Anda yang sering menyaksikan produk sinema Barat di bioskop dan mau mengamati sedikit lebih cermat, semestinya bisa merasakannya. Kalau belum, tak masalah. Fakta terbaru ini harusnya dapat memberi pencerahan.

Pada 2016, hanya 7 persen dari 250 film paling laris di Amerika Serikat digarap oleh sutradara wanita, turun 2 persen dari tahun sebelumnya. Bagaimana dengan peran-peran penting lain dalam produksi film super-besar itu seperti produser, editor, penulis, dan sinematografer? Sedikit lebih tinggi yakni 17 persen.

Dalam artikel yang dipublikasikan The Hollywood Reporter pada Mei lalu, mempekerjakan Jenkins sebagai sutradara dianggap sebagai perjudian bagi Warner Bros, mengingat satu-satunya film panjang yang ia garap adalah Monster pada 2003 silam.

Dari "cuma" membesut film independen berbujet $8 juta, Jenkins kudu mengerahkan usaha maksimal untuk proyek superhero senilai $150 juta. Kalau Wonder Woman berujung flop alias dicap gagal (ingat Catwoman atau yang terbaru, reboot Ghostbuster?), kesempatan para sutradara wanita untuk berbicara di level teratas akan punah, berbeda dengan sutradara laki-laki yang meski filmnya gagal di box office tapi tetap mendapat kesempatan kedua atau ketiga. Perempuan mungkin baru akan dilirik lagi satu dekade kemudian. Proyek film superhero, lagi dan lagi bakal kembali jatuh ke pangkuan laki-laki.

Perempuan Bukan Pasar 'Niche'

Di industri perfilman terbesar sejagad, pasar wanita masih dianggap 'niche'. Boro-boro bicara kesetaraan upah, kesempatan bekerja untuk posisi vital saja masih sangat jarang. Aktris asal Australia, Cate Blanchett, pernah menyinggung kenyataan tersebut ketika menerima trofi Oscar keduanya pada 2014 lalu lewat Blue Jasmine:

"Dan terima kasih kepada mereka di industri yang dengan bodohnya masih menganggap ide bahwa film-film perempuan, dengan perempuan sebagai pusatnya, merupakan pengalaman niche. Tidak sama sekali. Penonton ingin menyaksikannya, dan faktanya, film-film tersebut menghasilkan uang."

Faktanya, masyarakat luas memang menginginkan keberagaman cerita. Ketika Hollywood terlihat mentok dengan strategi sekuel, reboot, serta adaptasi dari properti yang sudah lebih dulu populer, film-film yang tidak menggunakan formula standar Hollywood malah berjaya di pasar.

Pada tahun ini, Jordan Peele menjadi penulis-sutradara kulit hitam pendatang baru pertama yang sukses mencapai lebih dari $100 juta lewat film horor Get Out yang menyangkutkan isu-isu rasial. Ada pun Hidden Figures, dengan pemeran utama tiga perempuan kulit hitam sebagai ilmuwan NASA sanggup menarik simpati kritikus dan audiens di mana hingga saat ini sudah mencetak $169 juta, enam kali lipat bujet produksinya.

Bandingkan dengan strategi konvensional Hollywood: anggaran besar dengan bintang film besar. The Great Wall yang dibintangi Matt Damon keok di box office AS, Ghost in the Shell dengan Scarlett Johansson menghilang begitu saja, King Arthur: Legend of the Sword tak dapat berbicara banyak. Tambahkan lagi reboot Baywatch dan sekuel kelima Pirates of the Caribbean yang membuat produsernya berduka di pekan Memorial Day. Mungkin formula tersebut manjur untuk kawasan dunia ketiga, tapi tidak untuk pasar AS di mana para penontonnya sudah bosan melihat yang itu-itu lagi. Lebih baik mana, berpindah-pindah klik di Netflix atau Amazon atau menggelontorkan uang untuk menyaksikan itu lagi itu lagi di bioskop?

Titik Cerah Sineas Perempuan

Sebelum Wonder Woman, tidak ada kisah bernama film superhero wanita sukses di pasar. Scarlett Johansson sebagai Black Widow dan Jennifer Lawrence sebagai Mystique memang termasyhur, tapi itu bukan film tentang mereka. Walaupun kalau dicermati, film yang mengangkat perempuan sebagai tokoh utama punya rekam jejak lumayan dalam beberapa tahun terakhir. Bukan, yang dimaksud bukan seri Twilight, melainkan agak maju sedikit ke The Hunger Games di mana Lawrence sebagai Katniss Everdeen cukup mengangkat derajat pemain perempuan. Setelahnya barulah ada tokoh baru macam Daisy Ridley yang memerankan Rey di Star Wars: The Force Awakens serta Felicity Jones yang menjadi kesayangan banyak orang lewat Rogue One: A Star Wars Story.

Tapi mana yang benar-benar superhero berbasis komik populer? Di situlah istimewanya Wonder Woman.

Saat ini ada beberapa film superhero wanita yang sedang dalam tahap pengerjaan. Marvel Studios akan memperkenalkan Brie Larson sebagai Carol Danvers alias Captain Marvel di Avengers: Infinity War pada 2018 mendatang sebelum film tunggalnya sendiri yang disutradarai duet Anna Boden-Ryan Fleck rilis pada 2019. Sementara Joss Whedon tengah menggarap Batgirl untuk Warner Bros.

Sedangkan untuk posisi sutradara sendiri, Ava DuVernay yang naik daun berkat Selma menjadi filmmaker perempuan kulit hitam pertama yang diberi bujet $100 juta guna membesut A Wrinkle in Time untuk Disney, rencananya rilis pada 2018. Gina Prince-Bythewood sudah setuju dengan Sony Pictures untuk menggarap film spinoff Spider-Man bertajuk Silver & Black yang akan berfokus pada karakter komik Marvel: Silver Sable dan Black Cat. Jenkins sendiri akan segera mengerjakan proyeknya yang berikut yaitu (mudah ditebak), sekuel Wonder Woman.

Gal Gadot, Wanita Super Asli

Gal Gadot sudah berpikir untuk meninggalkan dunia akting saat dirinya ditelpon Zack Snyder guna mengikuti audisi film yang tidak ia ketahui. "Sangat berat. Seringkali cuma hampir, lagi-lagi tes kamera, lagi-lagi cuma hampir. Saya bilang ke suami kalau saya tak tahu berapa lama lagi dapat menghadapi semua ini," ujar mantan Miss Israel 2004 saat diwawancarai Jimmy Fallon.

Ketika Gadot mendapatkan peran Wonder Woman enam minggu setelah casting - juga melalui telepon - mungkin dirinya belum berpikir kalau dia bersama seluruh pembuat dan kru berada dalam proyek yang nantinya dikenang sebagai tonggak perubahan.

Ibu beranak dua ini hanya dapat bersyukur. "Akhir pekan paling luar biasa dan gila dalam hidup saya," tuturnya lewat video Facebook.

Kerja keras dan penantiannya terbayar. Asal tahu saja, Gadot sedang mengandung anak keduanya ketika harus melakukan syuting tambahan di Leavesden Studios di London. Perlu bantuan CGI guna menutupi perut besarnya di mana departemen kostum harus memotong bagian depan kostum dan menggantinya dengan tambalan hijau.

"Ketika shot close-up, saya benar-benar seperti Wonder Woman," ungkapnya kepada Entertainment Weekly. "Namun jika sudah wide shot, saya terlihat konyol, seperti Wonder Woman hamil dengan Kermit the Frog."

"Sekarang minimal kami dapat memberitahu putrinya, Maya, kalau dia berada di dalam perut ibunya di tengah-tengah adegan perang," tambah Jenkins.

Wonder Woman telah menuai banyak pujian, mencetak rekor, dan membuka harapan bagi kaum yang tadinya (atau masih) terpinggirkan. Di tengah euforia kekuatan perempuan, satu dari sedikit komentar mengenai keterkaitan film ini dengan gerakan feminis berasal dari seorang wanita, penulis di Slate, yang tidak habis pikir dengan plot Wonder Woman mau tidur bersama Steve Trevor (Chris Pine) yang berkelamin lelaki hanya beberapa saat sebelum memerangi tentara Jerman - yang seluruhnya adalah lelaki.

"Kapasitasnya untuk setuju (untuk berhubungan) agak blurry," tulisnya.

Ah, walaupun kemudian kita tahu kenapa Gadot merelakan pengalaman pertamanya hanya untuk Trevor seorang. Pada akhirnya dewa pun tak jauh berbeda dengan manusia, bukan?