Sinetron yang Dekat dan Menjauh

By Marnala Eros, Apr 1, 2016

Sinetron yang Dekat dan Menjauh

Kapan terakhir kali cerita sinetron lokal dapat Anda nikmati?Mungkin tidak dalam sepuluh tahun terakhir. Jikapun ada, berarti selera adalah masalah terbesar dalam hidup Anda. Menyebalkan memang dianggap rendahan, tapi sialnya itu kenyataan. Karena sebuah kualitas tetaplah kualitas. Bagus adalah bagus. Keren, ya diacungi jempol. Sementara sampah akan selalu menjadi sampah, berisiko menularkan mental buruk. Dan, jika pertanyaan tadi dirasa mengganggu, maka itulah indikasinya: mental sinetron telah mengambil alih jiwa Anda.

Jadi, sudah menemukan judul sinetronnya? Belum? Wajar, dan syukurlah. Sebab sudah lama sekali sejak kualitas menjadi bahan perhitungan dalam memproduksi sebuah sinetron. Yang terjadi adalah pencemaran, polusi sinema televisi. Akting amatiran, dialog cerita kacangan dan setting murahan. Itulah yang terjadi ketika rating begitu dipertuhankan. Binasalah sudah keindahannya. Sistem kejar tayang kemudian kian memperburuk semuanya. Tapi memang industri mereka seperti itu, bukan? Lupakan kualitasnya, masifkan episodenya dan larutkan penonton dengan drama-drama terburuk yang pernah ada. Tanpa disadari, selera masyarakat telah digiring secara menyedihkan menuju kerendahan mutu. 

Rating Akar Masalah?

Sebenarnya apa yang menjadi perkara buruknya kualitas sinetron kita sekarang ini? Padahal dulu industri ini pernah menghasilkan beberapa judul berbobot, dalam hal ini memiliki tema cerita yang berbeda dan keren, juga tentu tokoh-tokoh yang berkarakter kuat di dalamnya. Sebut saja Anak Menteng, Bung Jenderal, Pondok Indah, Ali Topan Anak Jalanan, Lupus, Strawberry atau Si Doel Anak Sekolahan, yang jauh lebih layak tonton dibanding kisah relijius penjual kenaifan atau sekelompok vampir remaja tolol yang berperang dengan sekelompok remaja serigala yang juga sama tololnya.

Salah satu penulis skenario terpercaya, Salman Aristo mengatakan sinetron Indonesia tidak memberi keleluasaan bagi para penulis untuk mengembangkan ide-ide mereka. Baginya, sebuah skenario sudah sepatutnya digodok secara benar-benar matang sebelum akhirnya menjadi satu karya yang utuh. Bila tim produksi belum merasa puas, maka skenario tadi wajib dibedah ulang sehingga kualitas yang terbaik akan benar-benar tercipta. Bukan lagi asal jadi. Setelah itu proses berlanjut ke sesi reading dengan para aktor dan aktris. Kemudian jika masih terdapat naskah dialog yang janggal, revisi penulisan ulang wajib dilakukan. Menangani produksi sinetron seharusnya sama seperti mengerjakan sebuah film layar lebar. "Dari proses yang panjang dan lebar ini, mungkin nggak tayangannya stripping," kata Salman. Sebagai penyeimbang ratusan sinetron buruk yang beredar Salman Aristo telah mengerjakan dua judul televisi, Duet dan Antologi Kriminal, yang dikatakannya berbeda dengan semua sinetron yang tengah tayang di televisi hari ini. 

Ya, stripping atau kejar tayang. Meski itu memberi keuntungan mengikat kesetiaan penonton, mereka tidak harus menunggu guliran episode berikutnya dalam seminggu melainkan akan tayang setiap hari, tapi juga pasti berdampak buruk terhadap kedodorannya intelejensia tim kreatif, khususnya tentu saja para penulis naskah.

Faktor berikutnya adalah tema obral kenaifan. Yang satu ini penyakit. Masyarakat dididik terus bermimpi, dihibur terkagum-kagum untuk kemudian dibohongi. Singkatnya, tidak masuk akal miskin realita. Memang ada beberapa judul sekarang yang masuk kategori bagus, tapi begitu rating naik, episode wajib dipanjangkan dan terus dipanjangkan hingga entah berapa ratus. Dengan tema yang kemudian dibuat-buat tetapi tetap monoton, hasilnya akan selalu minus. Belum lagi polemik jiplak yang membuat kita ketawa dalam hati ketika menontonnya. Sementara itu, alih-alih menulis sebuah skenario yang orisinal para penulis dihadapkan pada kejenuhan dan mentoknya ide karena dituntut, "bagaimana cara dan jalan ceritanya satu sinetron ini harus terus berlanjut, korek terus konfliknya". Seberapa cerdasnya seorang penulis atau sutradaranya sekalipun, ujungnya pasti berakhir jemu. Tapi akhirnya pun sulit, sebab celakanya masyarakat kita masih menyukainya. Ini jelas kondisi yang sulit. Selama penontonnya tetap membondong sinetron-sinetron menyedihkan itu akan terus menjamur.

Sekarang kancah sinetron, selain tetap didominasi oleh plot religi dan komedi, industri ini juga menghadirkan persaingan dengan tayangnya sinetron Turki yang banyak dinikmati, serta masih membuainya produk-produk Bollywood. Rating mereka sudah pasti peringkat atas. Lalu dari kalangan lokal, di tahun 2016 ini akan muncul judul-judul macam Saur Sepuh, Catatan Hati Seorang Istri, Assalamualaikum Beijing the series dan Magic Hour the series.  

Mengetahui judul-judul di atas masih berharap kualitas sinetron kita dapat membaik? Rasanya sulit dan kecil harapan. Selera buruk masih akan terus merajalela. Korbannya, ya jelas masyarakat, yang tidak sadar jika mereka telah diberi tontonan pencemaran dan pelemahan intelejensia. Ah, kasihan peradaban bangsa ini.

Tapi bukan juga tanpa jalan keluar, saat ini ada perkembangan baru bagi industri sinema Indonesia, yaitu digital media atau biasa disebut internet televisi yang masih menjamin kebebasan ekspresi karya dari para sineas dan penulis di mana kebijakan sensornya masih lenggang, juga tentu saja tidak terikat dengan sistem kerja stripping sehingga masa dan jam tayang sebuah judul sinema lebih fleksibel dibanding televisi nasional. Sementara peringkat rating pun lebih transparan karena langsung ditunjukkan dengan jumlah view dari penonton. 

Beberapa sineas sudah mulai merambah ke media ini, dengan web series seperti Kisah Carlo yang disutradarai oleh Andri Cung dan Paul Agusta. 

Ada juga, Bandung Survivor oleh Prama Yodha. Dua web series ini memiliki cerita menarik dan nilai produksi yang tinggi, namun bisa dibayangkan cukup sulit untuk ditayangkan oleh tv konvensional baik karena cerita, nilai produksi dan tuntutan sensor.

Jelas ini merupakan angin segar di tengah kondisi sinema televisi yang makin hari makin membusuk hilang mutu. Internet televisi relatif masih steril dari bakteri dan polusi industri perfilman Indonesia. Panggung alternatif bagi para penggiat sinema juga masyarakat penonton yang mendambakan kualitas yang jauh lebih baik dan alergi terhadap tontonan buruk.

Jadi, matikan televisi?

 

Referensi:

http://www.kaskus.co.id/thread/54ffe8e29e7404767b8b4571/13-hal-yang-membuat-si-doel-anak-sekolahan-selalu-jadi-bagian-dari-keluarga-indonesia/

 

Sumber Foto: Layar.id

Tags: