Selamat Jalan, Johann Johansson

By Marnala Eros, May 9, 2018

Selamat Jalan, Johann Johansson

Selamanya kita akan mengenang Johann Johansson sebagai komposer yang mengaburkan batas antara sound design dan score; sosok garda depan dalam hal yang menyadarkan kita mengenai peran dan kedalaman musik untuk film. Satu dari sedikit kabar gembira industri sinema akhir-akhir ini.

"Bagiku, apa yang biasanya disebut orang-orang sebagai sound design adalah salah satu komponen dalam mengorkestrasikan score (susunan musik). Bagiku itu cuma salah satu elemen, dan itu elemen yang sering saya gunakan. Tapi itu bagian dari proses komposisi; itu bukan hal yang terpisah dan bagiku dua hal itu sama. Jadi saya tidak membedakan antara menggubah dan menciptakan sound. Menurutku cukup kolot membedakan keduanya karena cara kerja tiap komposer muda yang kukenal adalah seperti itu," tutur Johannsson saat berwawancara dengan Indiewire tahun silam.

Johannsson menghembuskan nafas terakhir di apartemennya di Berlin. Penyebab kematiannya di usia 48 tahun masih belum diketahui hingga tulisan ini dirilis. Dunia, khususnya Islandia, kehilangan seorang pembaru.

Jauh sebelum imajinasinya merajalela dalam Arrival, The Theory of Everything , Sicario, dan Prisoners, Johannsson terlebih dulu melanglang di kancah musik Islandia dengan membentuk unit proto-shoegaze yang terinspirasi Jesus and Mary Chain dan Joy Division bernama Daisy Hill Puppy Farm. Beberapa album mini mereka sempat mampir ke pangkuan DJ legendaris BBC 1 John Peel dan mendapat surat penggemar dari audio engineer kenamaan Steve Albini.

Laki kelahiran Reykjavik ini kemudian bermain gitar dan bertindak sebagai produser untuk band-band indie rock Islandia macam Olympia, Unun, dan Ham. Pada akhir 90an dia turut membentuk Kitchen Motors, organisasi think tank di bidang seni dan musik yang kerap mengolaborasikan artis-artis punk, jazz, klasikal, metal, dan elektronik.

Pada awal 2000an Johannsson keluar dari cangkangnya dengan melepas sejumlah album solo; cikal bakal kekhasan notasi yang meliuk-liuk di area kehilangan dan elegi mendalam. Mengutip the Guardian, sutradara Aaron Moorhead berujar kalau lagu-lagu Johannsson dalam album IBM 1401: A User's Manual yang dirilis pada 2006 tampak "seperti dirinya menulis requiem-nya sendiri".

Masih dari obituari oleh the Guardian, penulis Joe Muggs menganggap bahwa apresiasi terhadap Johannsson belakangan ini tidak hanya seputar komposer film, namun lebih jauh lagi, dia memelopori gerakan post-classical atau neoclassical yang lantas melambungkan sosok seperti Nils Frahm. Dia menjadi contoh seorang musikus yang elok membaurkan gitar dan elektronik underground ke audiens luas dengan tidak menyingkirkan nilai-nilai orkestrasi klasik.

Kejeniusan terakhirnya dapat ditemukan dalam Mother! garapan Darren Aronofsky yang sudah tayang pada September 2017. Johannsson menghabiskan satu tahun menulis musik untuk film tersebut, namun setelah menyaksikan 90 menit score disandingkan dengan rough cut film, dia dan Aronofsky memutuskan untuk tidak memakai original score.

Sesama komposer Olafur Arnalds memberi apresiasi mendalam atas keputusan tersebut, menyebutkan bahwa hanya artis hakiki dan tanpa pamrih yang dapat melakukannya.

"Bagian paling penting dalam menciptakan seni adalah proses dan Johann tampak memahami proses. Musiknya perlu ditulis dulu guna menyadari kalau itu mubazir. Jadi saya memandang bahwa Mother! masih menyimpan score oleh Johann. Score-nya hanyalah keheningan... hening yang jenius."

Kepada Vanity Fair dalam wawancara tahun lalu, Johannsson menyadari keindahan yang ia hasilkan. "Seperti memahat patung, kamu memulai dengan lempengan granit atau marmer, kemudian kamu memahatnya. Dalam hal ini kami sudah mengukir seluruh granit, seluruh marmer, dan tak ada lagi yang tersisa. Realitanya seperti itu dan itulah yang dibutuhkan film tersebut. Pada dasarnya itulah yang diperlukan Mother!".

Kematian Johannsson tidak akan mengubah keabadian karyanya. Pada tahun ini pun jika tidak ada perubahan kita bakal masih mendengarkan gubahannya dalam film-film seperti Mary Magdalene (dibintangi Rooney Mara & Joaquin Phoenix), Mandy oleh Panos Cosmatos yang baru tayang di Sundance, dan The Mercy arahan James Marsh (The Theory of Everything).

Tadinya pun Johannsson berencana menyelesaikan film panjang perdananya bertajuk Last and First Men, direkam dengan 16mm hitam-putih dan dinarasikan Tilda Swinton. Film tersebut merupakan pengembangan dari karya audiovisual yang pada musim panas tahun lalu sempat tayang di Festival Film Manchester. Johannsson menyebutkan kalau dirinya sudah mengerjakan proyek itu selama 10 tahun. Namun kepergian mendadaknya membuat rencana tersebut seakan mengambang.

Istirahat yang tenang, Johann.

 

Sumber Foto: Indiewire