Review The Window: Menolak Hantu Masa Lalu

By Marnala Eros, May 17, 2016

Review The Window: Menolak Hantu Masa Lalu
Kebetulan atau tidak, The Window hadir di saat yang tepat. Secara gamblang selama 122 menit tampak digambarkan posisi kaum wanita dalam lingkungan keluarga (seperti banyak suku lain di Indonesia, menganut sistem budaya patriarki) yang takut bersuara pada masanya. Jika menengok kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang menimpa para korban sampai hari ini, maka film ketiga Nurman Hakim adalah sebuah pesan yang mengundang kita untuk berpikir lebih jauh dan bahwa perempuan juga berhak merdeka seperti layaknya laki-laki.
 
The Window memasang latar Mei 1998 di mana reformasi tengah menggeliat. Dewi (Titi Rajo Bintang) sudah sepuluh tahun berada di Jakarta. Suatu hari ia mendapat surat dari ibunya yang berisi potongan koran dengan berita mengherankan. Dee, kakaknya yang cacat mental dan diperankan dengan baik oleh aktris berbakat Eka Nusa Pertiwi, hamil secara misterius yang kemudian dianggap mukjizat oleh keluarga dan warga sekitar.
 
"Kita bukan Katolik," tutur Dewi saat berbincang dengan ibunya. Dewi menolak bersikap normatif, memilih sinis dan memercayai logika ketimbang menelan mentah wacana mukjizat.
 
Dewi tadinya enggan untuk sekadar membuka surat dan pulang ke rumah (bukan galau anak rantau, akan terjawab seiring berjalannya film). Namun kepulangannya inilah yang membuka tabir masa lalu. Dewi kembali berhadapan dengan sang bapak Dharsono (Landung Simatupang) yang gila hormat khas Orde Baru namun hasrat birahinya serupa remaja puber serta ibu (Karlina Inawati) yang "diam" saja, tak pernah berniat mengintervensi langsung kelakuan suaminya, khas pedesaan Jawa.
 
Dewi juga bertemu dengan dua lelaki yang pernah dan akan ada dalam hidupnya. Joko (Yoga Pratama) merupakan teman semasa kecil, berpakaian koboi tatkala dewasa, dan dipecat dari pabrik tembakau ketika dipimpin Pak Dharsono. Dia menyimpan rasa cemburu terhadap Priyanto (Haydar Salish), pelukis yang bertetangga dan tempat Dewi bercerita.
 
Sutradara Nurman yang juga ikut menulis naskah bersama Nan Achnas (Kuldesak, Pasir Berbisik) mampu menampilkan apa adanya perspektif lama yang terpendam di masyarakat desa. Bahwa seorang istri harus 'manut' saja kepada suami. Adegan paling menggemaskan tentu ketika sang ibu harus berulang kali membuat kopi agar sesuai dengan keinginan si bapak. Bahwa ketika bapak sedang bercerita, seisi rumah harus fokus mendengarkannya.
 
Dialognya mengingatkan kita akan rumah yang memberi kehangatan namun di sisi lain memuakkan. Begitupun permainan menyebut nama negara berdasarkan abjad. Terasa dekat bagi yang dulu pernah melakukannya.
 
Satu nafas dengan film sebelumnya, Khalifah, Nurman kembali memunculkan perjuangan seorang wanita. Perjuangan Dewi menghadapi hantu masa lalu, susah payahnya Dee memikul kehamilan tanpa kejelasan dan nalar, juga ibu yang harus menanggung malu dan prahara.
 
Drama keluarga yang akan mengaduk emosi Anda.
 
Lalu kenapa berjudul The Window? Ah, rasanya kurang seru jika Yoodeo menyuratkannya. Lebih baik tersirat saja seperti film ini sendiri. Lebih baik membicarakannya pada waktunya.
Tags: