Review Prenjak (In the Year of Monkey): Dua Kelamin Anak Manusia

By Marnala Eros, May 19, 2016

Review Prenjak (In the Year of Monkey): Dua Kelamin Anak Manusia
Kelamin. Tak habis-habis umat manusia membicarakan alat vitalnya tersebut. Pihak Cannes Film Festival bisa jadi menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang tetap relevan untuk dibahas, sedangkan di negeri ini mayoritas masih melihatnya tabu. Maka jangan heran jika ada yang cuma mau menyebutnya sebagai "kemaluan".
 
Prenjak karya Wregas Bhanuteja sangat kental menggunakan kelamin sebagai simbol perjuangan anak manusia menghidupi diri dan keluarganya. Lewat judul alternatif In the Year of Monkey, film dengan penonjolan kearifan lokal ini bersaing dengan sembilan film pendek lain dari berbagai negara pada kompetisi pekan kritikus atau Semaine de la Critique ke-55 di Cannes 2016.
 
Bagi Wregas ini merupakan pencapaian berikutnya setelah tahun kemarin film pendeknya yang lain, Lembusura, juga lolos seleksi untuk berkompetisi di Berlin Film Festival. Film sineas Indonesia tayang di festival bergengsi luar negeri tentu bukan hal baru. Tapi eksplorasi tema dari mereka-mereka ini selalu patut ditunggu.
 
Dalam Prenjak, Wregas menyodorkan dua tokoh yang melambangkan dua genitalia. Diah (Rosa Winenggar) butuh uang, maka dia menawarkan Jarwo (Yohanes Budyambara) untuk melihat kelaminnya di bawah meja dalam kegelapan dengan harga sebatang korek api. Satu batang sama dengan Rp 10 ribu.
 
Menurut Wregas via Skype setelah pemutaran, praktik semacam ini umum terjadi di Yogyakarta tatkala dirinya masih duduk di bangku SMA. Ada sejumlah ibu-ibu penjual makanan yang turut menjajakan korek api. Pelanggannya? Laki-laki, tua muda banyak yang suka. Hal tersebut jelas tak lepas dari faktor ekonomi walau sekarang sudah jarang ditemukan.
 
Namun apakah finansial selalu jadi alasan? Sejauh yang digambarkan Wregas, memang benar adanya. Selama 13 menit kita disajikan gambaran tentang peliknya hidup, harapan, kejujuran, penasaran, dan hasrat.
 
Film dengan syuting dua hari yang masih menarik ditonton dalam dua dekade ke depan, ketika Wregas mungkin pada saat itu sudah mengantungi empat sampai lima film panjang yang mutunya bakal berlipat kali ganda dari yang sekarang.
 
Siapa juga yang tak mau punya harapan? Tanya saja Diah.
 
 
Sumber Foto: Warning Magz
Tags: