Penulis dan Industri Perfilman Indonesia

By Marnala Eros, Mar 17, 2016

Penulis dan Industri Perfilman Indonesia

Film adalah industri. Konsekuensinya, penulis naskah film, tidak bisa seleluasa penulis novel atau komik. Begitu masuk dalam sebuah lingkungan industri, penulis dituntut untuk mematuhi jadwal dan perjanjian-perjanjian yang dibuat untuk mengikat kerjasama antara penulis dan PH.

Di sini penulis tidak dapat bertindak layaknya seorang penyair yang menggubah puisi tanpa sudi direvisi siapapun. Karena dia berhadapan dengan berbagai kondisi. “Setiap dialog, cerita maupun tokoh menghadapi jutaan pemirsa, badan sensor, serta lembaga pemantau pertelevisian,” jelas Sony Adi Setyawan, penulis skenario profesional.

“Sampai sekarang, TV-TV nasional selalu mencari penulis skenario cerdas untuk bergabung dengan mereka. Kompetisi memang semakin ketat, tapi tayangan drama juga diproduksi semakin banyak, 5.000-10.000 episode per tahun. Selain itu honornya juga lumayan,” iming-iming lelaki bernama beken Sony Set ini.

Menurut hitung-hitungan Sony, jika kita bicara satu episode sinetron berbujet 100 juta, seorang penulis pemula akan mendapat sekitar dua juta. Kalau dia pro, perolehannya bisa di atas empat juta untuk durasi satu jam.

“Malahan penghasilan penulis film bioskop minimal 25 juta per skenario, karena lebih susah dan lama penulisannya,” lanjut pencetus gerakan Jangan Bugil di Depan Kamera.

Itu di Indonesia. Padahal peluang bisa datang dari mana-mana. Kepada saya, sarjana Manajemen UNS ini mengaku pernah ditawari menulis di Malaysia. Tapi ditolaknya, karena pihak yang menawari menuntut kontrak eksklusif yang mewajibkan Sony tinggal terus-menerus di sana selama beberapa tahun.

Masalahnya, laki-laki yang juga aktif menulis buku-buku nonfiksi ini terlanjur memilih jalur freelance . Dia merasa nyaman tanpa ikatan, sehingga bisa nyambi di mana-mana. Di samping itu, “Kalau dikontrak eksklusif kadang cuma bisa membebek perintah produser, mau nggak mau harus taat rating, dan selalu mengikuti selera pasar. Freelance kan lebih bebas untuk menentukan lanjut atau tidak, sesuai nurani kita. Tapi nggak enaknya, kadang order nggak datang-datang,” tuturnya sembari tersenyum.

Bagaimanapun, Sony titip pesan pada penulis skenario pemula atau calon penulis skenario untuk selalu sabar dan tabah. Teruslah menulis walau belum dapat order, katanya.

Selain itu, menurut penggemar basket ini, penulis pemula harus mempunyai ketrampilan merancang ide dan program. Jadi, dua talenta dituntut di sini: Penulis sekaligus perancang program. “Kalau idenya oke, siap-siap saja untuk sukses,” pungkas pria kelahiran Jakarta 36 tahun silam ini.

 

Referensi:

http://warungfiksi.net/sebelum-menekuni-jalur-film/

 

Sumber Foto: Bisnisukm

Tags: