Night Bus, Film Terbaik FFI 2017

By Marnala Eros, May 9, 2018

Night Bus, Film Terbaik FFI 2017

Night Bus berjaya di Festival Film Indonesia 2017 yang berlangsung pada 11 November lalu di Manado, Sulawesi Utara. Pada anugerah tahunan terbesar dalam perfilman Indonesia, film arahan Emil Heradi menyabet enam piala, berjarak satu saja dengan penguasa nominasi sekaligus film pengumpul 4 juta penonton, Pengabdi Setan, yang meraih tujuh Piala Citra.

Yang membuat semakin terasa spesial, Night Bus mengantungi kategori bergengsi seperti penghargaan utama Film Terbaik, serta Pemeran Utama Pria Terbaik yang diberikan kepada Teuku Rifnu Wikana (juga bertindak sebagai Produser). Selain itu, Night Bus turut diganjar trofi Penulis Skenario Adaptasi Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penata Busana Terbaik, dan Penata Rias Terbaik. Bandingkan dengan Pengabdi Setan yang mendominasi kategori teknis macam Pengarah Sinematografi Terbaik, Penata Musik Terbaik, Lagu Tema Terbaik, Penata Suara Terbaik, sampai Pengarah Artistik Terbaik.

Drama-thriller yang dikerjakan selama hampir tiga tahun ini memang mengandung skala tema yang lebih luas dan serius dengan memasukkan unsur konflik dan kemanusiaan. Diproduksi Night Bus Pictures dengan Darius Sinathrya sebagai Produser, film ini mengisahkan tentang sebuah bus yang berkendara menuju Sampar, kota yang terkenal kaya akan sumber daya alam, namun dijaga ketat oleh sekelompok tentara yang siaga melawan militan pemberontak yang menuntut kemerdekaan atas tanah kelahiran mereka. Di antara penumpang, ada penyusup yang membawa pesan penting yang harus disampaikan ke Sampar. Kehadiran dia tentu membahayakan semua penumpang, karena dia dicari oleh kedua pihak yang bertikai.

Kami sendiri belum sempat menyaksikan Night Bus karena jadwal tayangnya sebentar sekali pada April lalu, kalau tidak mau disebut terlewat. Maklum, promosi film ini memang terhitung minim. Semoga masih ada kesempatan menonton di lain waktu. Oleh karena itu bersama-sama kita sedikit mencari tahu saja serba-serbi mengenai film ini, film kecil dengan pengaruh besar.

1. Penonton Terminim

Dari seluruh nominasi Film Terbaik FFI 2017, Night Bus mengumpulkan jumlah penonton paling kecil. "Penonton Night Bus 20 ribuan satu minggu. Sedih ya. Dapat 105 layar, di bioskop jaringan dan kecil," ungkap Darius seperti dikutip dari Liputan6.

Sangat jauh dari Cek Toko Sebelah yang menghimpun 2,6 juta penonton, Kartini dengan 500 ribu lebih pengabdi, atau Posesif yang masih tayang, kini sudah menyentuh 200 ribu penonton. Pengabdi Setan? Jangan ditanya. Untungnya di FFI film-filmnya saling adu kualitas, bukan banyak-banyakan penonton.

2. Debut Produser Darius

Beginner's luck, bisik sebuah ungkapan populer. Night Bus merupakan pengalaman pertama Darius bertindak sebagai Produser. Sebelumnya dia lebih dikenal di kancah akting dan pembawa acara.

Perjalanan menuju Film Terbaik tentu tidak mudah dan cukup berliku. Awalnya, film ini didesain guna bersaing di festival film luar negeri, tapi karena satu dan lain hal, itu urung terjadi. Kemudian Darius mengaku kalau jumlah penonton yang sedikit lantaran ada kesalahan dalam hal distribusi film.

"Kami ada kendala di distribusi, dari pihak kami memang, dari paskaproduksi, sehingga beberapa layar enggak bisa diputar, orang jadi tidak bisa menonton. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan lagi buat ditonton," ujarnya kepada CNN Indonesia. Kami pun berharap serupa, bung!

3. Unjuk Gigi Teuku Rifnu

Pembuatan Night Bus melalui perjalanan panjang yang dimulai dengan sebuah ide cerita dari Rifnu sendiri. Tahun 1999, Rifnu pernah bermukim di daerah konflik bernama Sampar dan mengalami teror di dalam bus selama 12 jam. Pengalaman itu lantas ia tuangkan ke dongeng monolog untuk sebuah pementasan, dan menjadi cerpen berjudul Selamat pada 2011.

Pada 2012, naskah film itu ditulis hingga menjadi rancangan akhir pada 2015, lalu memasuki periode produksi selama hampir 3 tahun.

Menurut Rifnu, Night Bus merupakan film yang melalui proses pembuatan terbaik yang pernah dijalaninya. Karya ini sendiri merupakan film ke-36 yang dilakoni Rifnu.

"Saya enggak akan bisa mencapai apa yang saya dapatkan kalau saya enggak berproses dan Night Bus adalah salah satu film yang menjalani proses paling benar sepanjang saya berperan," tuturnya seperti dilansir CNN Indonesia.

Kamu tak salah, Rifnu. Selamat untuk penghargaan Aktor Pria Terbaik FFI 2017!

4. Sampar

Kami mengonfirmasi langsung kepada Teuku Rifnu, ternyata benar informasi yang tertuang di beberapa naskah jurnalistik, yakni Sampar merupakan daerah fiktif. Soalnya saya sempat menemukan satu tulisan yang menyebutkan kalau Sampar benar-benar ada, terletak di ujung pulau Santani dan nggak terdeteksi di Google Maps. Dikenal dengan kekayaan alam, seperti rempah, emas. Ternyata itu cuma di film saja. Baiklah.

Sekali lagi selamat kepada pemain dan kru Night Bus yang sukses mengejutkan banyak pihak. Ayo tayang lagi dong!