Mulai Terkuak! Wajah Asli Susu Kental Manis

By Marnala Eros, Jul 12, 2018

Mulai Terkuak! Wajah Asli Susu Kental Manis

Berawal dari Surat Edaran nomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) yang terbit akhir Mei, BPOM mencoba menetapkan aturan main baru untuk produsen dan instrumen pendukungnya. Bahwa dokumen tersebut sempat geger di masyarakat hingga menelurkan simpulan yang melenceng, tidak ada tempat bagi isu-isu miring di sini.

Pada 5 Juli 2018 setelah ramai di publik, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberi penjelasan lengkap di laman resmi sebanyak tujuh poin, salah satunya menyebutkan sebagai hasil pengawasan iklan pada 2017, terdapat 3 iklan produk susu kental yang tidak memenuhi ketentuan karena mencantumkan pernyataan bahwa produk berpengaruh pada kekuatan/energi.

Di poin lain terdapat karakteristik jenis SKM yaitu kadar lemak susu tidak kurang dari 8 persen dan kadar protein tidak kurang dari 6,5 persen (untuk plain). Susu kental dan analog lainnya memiliki kadar lemak susu dan protein yang berbeda, namun seluruh produk susu kental dan analognya tidak dapat menggantikan produk susu dari jenis lain sebagai penambah atau pelengkap gizi.

Dalam konferensi pers 9 Juli, via Kompas.com, Penny Lukito yang menjabat sebagai Kepala BPOM menekankan poin-poin yang sudah dirilis sebelumnya, di mana "visualisasi dalam iklan melanggar kriteria yang ditetapkan BPOM."

Penny mengatakan beberapa visualisasi melanggar ketentuan, contohnya kemunculan gambar anak di bawah lima tahun atau gambar yang menyamakan susu kental manis dan susu biasa.

"Itu akan memberikan persepsi yang salah. Jelas susu kental manis adalah produk untuk pelengkap sajian. Jangan sampai anak kecil bayi dikasih asupan susu kental manis yang kayak susu, itu akan memberikan efek yang tidak baik untuk pertumbuhan," imbuhnya.

Sampai di sini kita disadarkan bahwa iklan-iklan susu kental manis selama ini telah membentuk persepsi mengenai produk mereka yang ditampilkan sebagai bergizi dan sehat, padahal belum tentu, apalagi kalau dikonsumsi berlebihan.

Media yang pernah mengupas dalam tentang isu ini adalah Remotivi, yang pada 17 November 2017 merilis video "Di Balik Manisnya Iklan Susu Kental Manis".

Dalam video terdapat informasi yang tidak pernah diketahui publik seperti hampir 50% kandungan susu kental manis adalah gula. Iklan-iklan susu kental manis pun membingkai produknya sebagai produk yang aman dan menyehatkan dengan hanya menunjukkan kandungan vitamin atau zat yang positif, ditambah kalimat-kalimat macam:

"Awali dengan segelas nutrisi"

atau

"Anak ayah tumbuh sehat"

Dokumen BPOM dirilis berjarak enam bulan dari konten Remotivi. BPOM mengambil langkah tepat, karena kita tak tahu apa yang dapat terjadi bila persoalan ini terus dibiarkan.

Sementara itu, via Tirto.id Komisi Perlindungan Anak Indonesia tidak menganggap pemerintah memberi imbauan tegas mengenai persepsi susu kental manis di masyarakat.

"Kalau tidak ada anjuran tegas dari pemerintah maka tak berpengaruh bagi masyarakat. Harus tegaskan, tidak untuk bayi," ungkap Sitti Hikmawaty, Komisioner KPAI. "Karena itu kami merekomendasikan penggunaan bahasa harus tegas."

Sitti juga mengusulkan agar susu kental manis "tidak menggunakan bahasa hiperbola", agar bahasa lebih "tegas, lugas, lalu eksplisit kepada anak di bawah 60 bulan tidak boleh."

KPAI menyoroti imbauan BPOM di mana penyebutan kata "susu" di produk susu kental manis tidak tepat karena kandungan gulanya bisa mencapai 40-50 persen atau lebih banyak dibanding lemak susu yang hanya 8 persen.

Sampai sekarang memang belum ada pernyataan dari Kementerian Kesehatan atau Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Ya mungkin sesudah artikel ini dirilis, kita tunggu saja. Yang jelas ini merupakan peringatan bagi produsen iklan susu kental manis untuk memutar otak lebih keras bagaimana menyampaikan pesan mengenai produk susu kental manis ke tengah masyarakat yang mulai belajar kritis.

 

Sumber Foto: Orami