Menilik Perfilman Indonesia Berdasarkan Diskusi dengan Para Sineas Lokal Terkemuka

By Marnala Eros, Nov 25, 2016

Menilik Perfilman Indonesia Berdasarkan Diskusi dengan Para Sineas Lokal Terkemuka
2016 merupakan tahun yang menyenangkan bagi sebagian besar pekerja film Indonesia. Angka-angka statistik sebagai bukti sahih begitu memuaskan mata. Panen prestasi di mana-mana. Putaran roda industri terasa lebih hidup alih-alih satu dekade ke belakang. Lalu resah di depan layar tetap merongrong, "Apakah benar kita baik-baik saja?"
 
Tentu tidak mudah dan terlalu dini mencari keabsolutan atas kegelisahan tersebut. Lagi pula, bukan zamannya lagi mencari sesuatu yang pasti, banyak waktu yang akan terbuang sehingga kadang menjadi lupa tujuan. Tapi aktivitas prediksi alias mengira-ngira, berusaha mendapatkan jawaban yang paling dekat, masih menjadi perhatian mereka yang terlibat.
 
Menelaah suatu kondisi dibutuhkan tak hanya dari satu kacamata analisa saja, melainkan pemikiran-pemikiran yang berasal beberapa isi kepala, dikemukakan, lalu diskusikan lebih jauh. Inilah yang kira-kira terjadi tatkala berlangsungnya SEAscreen Lab di Makassar. Lokakarya pembuatan film yang dikombinasikan dengan seminar dua hari menjadi saksi lalu lintas informasi seputar kondisi terkini perfilman nasional, dari sudut pandang pemangku kepentingan utama industri; produser dan sutradara.
 
Para sineas terkemuka yang didapuk berdialog yaitu Riri Riza, Mouly Surya, Ifa Isfansyah, Robert Ronny, dan Halim Gani. Yoodeo mencatat, dari pengalaman mereka bisa kita simpulkan bahwa masih banyak "pelajaran rumah" yang harus diselesaikan bersama oleh para pekerja film. Indonesia masih tertinggal dari negara-negara Asia lain yang kondisi perfilmannya jauh lebih baik dan dicari; Indonesia belum ada di posisi "dicari". Tak ketinggalan ada fakta seputar Athirah, film yang berprestasi besar di Festival Film Indonesia 2016, eksklusif dari mulut sang sutradaranya. Berikut poin-poin penting yang sudah kami kumpulkan:

Tentang Penonton Film Indonesia 2016

1. Jumlah penonton film Indonesia tahun 2016 diproyeksikan menembus 25 juta penonton (yang mana angka itu adalah rekor baru). Namun angka tersebut sudah tercapai di bulan September. Target baru pun ditetapkan, sebesar 30 juta penonton.
2. Sepuluh film Indonesia terlaris 2016 menyumbang 80% dari perolehan total 25 juta penonton.
3. Rata-rata produksi satu film = Rp 4 milyar. Setidaknya ditargetkan 300 ribu penonton untuk dapat menutup pengeluaran.
 
Demikian data yang disusun dari pemaparan Robert Ronny, produser Legacy Pictures yang gemar matematika. Kabar kurang baik di balik angka-angka tersebut adalah 80% dari 25 juta penonton disumbangkan oleh sepuluh film terlaris saja. Ke mana sisanya? Merujuk istilah di box office Hollywood, film-film lain terserang virus 'flop'.
 
Sutradara film indie, Mouly Surya, tertawa lepas mendapati hamparan angka yang tak mungkin diraih, lantas melepas fakta soal film-filmnya:
 
"Dua film saya digabung, (penontonnya) tidak sampai 50 ribu," canda Mouly soal biaya dan proyeksi keuntungan dalam membuat film ala Robert Ronny.
 
"Fiksi tidak BEP (break event point), tapi membuka banyak jalan."
 
Awalnya, Mouly memasang target film ini untuk laku, tapi nyatanya gagal secara penjualan. Tak disangka, FFI melirik dan Fiksi. menyabet empat penghargaan.
 
Film terakhirnya membuat beberapa studio distribusi besar mengantri.
 
"Begitu 'Don't Talk Love' diumumkan ada di Sundance, yang namanya kayak Sony Pictures Classic, Focus Features, pada ikut nge-email."
 
Film panjang kedua Mouly merupakan film pertama dari sutradara Indonesia yang berhasil tayang di Sundance Film Festival.
 
Pada hari kedua seminar, salah seorang sutradara Uang Panai, Halim Gani, ikut tampil sebagai pembicara. Tentunya berbagi kesan soal filmnya yang fenomenal tersebut.
 
"Kami ingin mengkritisi tradisi-tradisi yang menurut kami udah nggak manusiawi seperti itu (Uang Panai yang adalah mahar) melalui sebuah film."
 
Uang Panai adalah kejutan terbesar dari kancah lokal 2016. Dari yang tayang 4 layar, sukses besar sehingga bertambah menjadi 12 layar di seluruh penjuru negeri. Tapi karena kurang laku di daerah lain, turun lagi menjadi hanya 4 layar. Penonton di Sulawesi Selatan ternyata tak kunjung surut dan jadilah mereka menghimpun sekitar 500 ribu penonton. Konon kabarnya ketika Warkop DKI Reborn tayang di Makassar, penjualannya hanya satu per tujuh penjualan Uang Panai. Gila. Jangan macam-macam kalau sudah mengusung kedaerahan.
 
Pelajaran menarik pun datang dari Ifa Isfansyah, produser Siti.
 
"Saya ingat sekali ada pelajaran dari mbak Mira (Lesmana) bahwa 'Kalau pun kita punya uang, kalau bisa kalau produksi jangan pakai uang kita sendiri'."
 
Tentang kenapa Ifa dari sutradara geser jalur ke produser.
 
"Awalnya saya memang juga bukan produser, tapi saya sutradara yang beruntung sekali sudah pernah bekerja dengan produser produser yang saya anggap benar-benar produser. Ada produser yang benar-benar visinya itu dagang, tapi ada produser yang memang filmmaker. Film pertama dengan Sandy Harmain, bahkan punya kesempatan bekerja dengan mbak Mira Lesmana. Itu sekolah saya agar kalau saya memproduksi film, pengalaman pengalaman inilah yang saya pakai. Saya sudah 10 tahun berkomunitas dan kelemahan komunitas saya itu nggak ada produser. Jadi kami sekumpulan orang-orang yang bersemangat membuat film, dari sisi kreatifnya. Nggak ada yang jualan, nggak ada produsernya."
 
Tentang Siti...
 
"Akhirnya di saat memang urgent, kita tiga tahun development dan nggak menemukan apa-apa. Jadi kita berusaha kembali ke akar lagi, tapi udah kesusahan karena terlalu sering mengerjakan yang komersial."
 
"Siti adalah produk dari emergency itu. Secara skema produksi udah urgent banget. Secara kreatif juga udah urgent banget. Sampai mau nggak mau saya bilang bahwa 'Oke kita udah development, udah nyoba bujet segini dan saya tetap nggak dapat uangnya. Jadi ini kita punya uang yang aman seratus juta. Gimana ya caranya 100 juta ini harus jadi film tahun ini?"
 
Ifa menutup:
 
"Urgensi urgensi itu justru memunculkan keputusan-keputusan yang sebelumnya nggak pernah kami buat. Misalnya dari seratus juta itu, karena kami komunitas maka kami bisa duduk satu meja, 'Oke kalau seratus juta bisa berapa hari syuting?'. 'Oh ini enam hari syuting, satu lokasi saja.' Director yang tadinya bingung, dia mau ngomong apa, yang bertahun-tahun kehilangan, 'Kalau aku buat film, itu film yang seperti apa?', jadi jelas sekali. 'Oh kalau enam hari satu lokasi di Jogja, di mana yang kupilih ya'. Dia akhirnya jadi jelas. Produser yang tadinya bingung, skema produksinya seperti apa jadi jelas banget bahwa, 'Oh cuma seratus juta ya, jadi harus seperti ini, sistemnya seperti ini...'. Itu yang kemudian membuat Siti jadi."
 
Terakhir, ada Riri Riza yang juga menyimpan cerita saat mengerjakan film terbarunya, Athirah.
 
"Saya menganggap Athirah itu satu puncak dari tahapan pertama, bekerja membuat film di Makassar."
 
Sedikit kilas balik awal kepulangannya ke kampung halaman.
 
"Saya mulai sering kembali Jakarta-Makassar sejak tahun 2010 atau 2011. Bisa dikatakan saya tidak punya teman. Masih sulit membaca dunia seni dan film di Makassar. Tahun 2010an itu di Makassar ada semacam pergerakan industri kecil-kecilan di dunia film. Apa sih yang disebut industri? Di mana ada kontinuitas. Ada komunitas atau ada kelompok yang membuat film. dan membuat filmnya itu  digelindingkan. Bukan hanya dibikin terus ditinggal. Tapi dibikin, dibuat sistem bagaimana film itu selesai didistribusikan. Ada orang yang membeli karcis. Kemudian diputar. Kemudian hasil dari pembelian karcis dipakai lagi untuk membuat sesuatu."
 
Membuatnya membandingkan dengan kondisi di Jakarta.
 
"Anak-anak independen di Jakarta itu kalau membuat film, abis itu dilepas ke festival film, misalnya, atau diputar di komunitas lain. Tapi tidak seperti di sini spiritnya; bikin poster, jual karcis."
 
Yang lantas melahirkan kepedulian dan harapan.
 
"Saya melihat Makassar punya semacam akar yang sangat kuat untuk bisa melahirkan sesuatu yang lebih besar dari film. Sebenarnya di sini layak ada sebuah sekolah. Layak ada sebuah kegiatan yang membuat dunia film itu bergerak, bukan hanya bagi pembuatannya, tapi misalnya mendidik orang-orang yang ada di sekitar menjadi lebih terampil. Kemudian ada juga kegiatan yang memperkaya apresiasi dari penonton, sehingga penonton nggak cuma nonton film di mall-mall."
 
Jadilah film tentang ibunda Jusuf Kalla...
 
"'Athirah', sebuah drama yang bercerita tentang manusia. Perempuan dalam hal ini, dan pada saat yang sama dia punya banyak sekali sayap. Dia bicara soal keluarga, nilai keluarga dalam budaya Bugis. Dia bicara soal kekuatan menghadapi berbagai persoalan yang kadang-kadang dalam hidup harus kita hadapi. Terus dia bicara juga soal tradisi. Dia bicara sangat kental tentang apa-apa yang mestinya bisa menjadi kebanggaan kita sebagai orang Bugis Makassar. Bagi saya itu materi yang cukup kuat sebagai playground membuat filmnya."
 
Demikianlah sekelumit catatan tambahan dari diskusi yang berlangsung di Makassar. Untuk menutup tulisan ini Yoodeo teringat Riri Riza yang di tengah acara berkata:
 
"Membuat film itu saya nggak percaya membuat film aja. Karena buat saya film itu terlalu tinggi nilainya. Tidak otomatis film yang diputar di bioskop itu sudah film. Film itu harus punya dimensi yang lebih jauh. Dia harus bicara di tingkat yang lebih tinggi mestinya."
 
Mau tak mau harus setuju. Karena jalan yang harus ditempuh bangsa ini memang masih jauh...
 
Tags: