Menghidupkan Kembali Tan Malaka

By Marnala Eros, Apr 9, 2018

Menghidupkan Kembali Tan Malaka

Mimpi membuatmu melakukan hal-hal yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. Sewaktu duduk di bangku sekolah, Daniel Rudi Haryanto bermimpi; sebelum menginjak usia 40 dapat membuat film tentang Soe Hok Gie atau Tan Malaka.

Rudi mengidolakan kedua tokoh pemuda tersebut. Pada 2017, dirinya mendapat kesempatan mewujudkan proyek untuk nama kedua. Program Fasilitasi Komunitas Sejarah dari Direktorat Jenderal Kebudayaan memberinya dana sebesar Rp 175 juta untuk proyek film Tan Malaka. Jumlah kecil, tapi mampu berperan sebagai landasan. Oleh karena itu Rudi memaksimalkannya untuk syuting selama dua minggu di Eropa, merangkap sebagai sutradara, penata gambar, penulis naskah, sekaligus penata suara. "Karena memang saya tidak mampu memberangkatkan kru ke sana," ungkap Rudi dikutip dari Radar Malang.

Sebelumnya pada 2015 saat Rudi mendapat kesempatan berkunjung ke Paris, dia menyisihkan waktu mampir ke Belanda. "November 2015 di gang tempat Tan Malaka indekos, aku berdoa dalam keadaan udara yang dingin. Aku ingin bikin film Tan Malaka," ujarnya di Info Screening. Doanya terjawab. Perancis dan tempat tinggal Tan Malaka pun tak lepas dari narasi yang dibangun Rudi dalam film ini.

Maha Guru Tan Malaka mengisahkan perjalanan mahasiswa Indonesia bernama Marco (diperankan Rolando Oktavio) yang berkuliah di Perancis. Dia memandu kita mengunjungi jejak-jejak Tan Malaka di Harleem dan Leiden saat menjadi mahasiswa di Rijks Kweekschool, sekolah guru di Haarlem. Bersama sejarawan Harry Poeze yang sudah 50 tahun meneliti pemikiran dan perjalanan hidup Tan Malaka, mereka mengunjungi tempat tinggal, ruang kelas di sekolah, dan toko buku langganan sang pengawal kemerdekaan Indonesia yang terlupakan.

Jadilah ini sinema pertama yang berkisah soal kehidupan misterius Tan Malaka usai sebelumnya muncul melalui buku, novel, dan teater. Konsep visualnya dibagi menjadi dua layer, yaitu video blog (vlog) dan rekonstruksi peristiwa melalui animasi sketsa tangan oleh Rudi sendiri.

Tan Malaka Kembali ke Permukaan

Orang Indonesia lazim mengenal nama Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir dari era proklamasi kemerdekaan, tapi tidak dengan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Warisan Bapak Republik seolah tenggelam seiring cap komunis yang melekat pada dirinya. Dirinya bahkan dibunuh oleh bangsa sendiri. Tan mengecam politik diplomasi Sukarno-Hatta, menyebut mereka "telah menyia-nyiakan hak-hak mereka sebagai pemimpin", lantas dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah. Pada 21 Februari 1949 Tan Malaka ditembak mati oleh pasukan dari Batalion Sikatan Divisi Brawijaya.

Tan memang sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1963, namun namanya dihapus dalam pelajaran sejarah di sekolah oleh Orde Baru. Baru setelah reformasi Tan kembali ke permukaan

Menurut peneliti sosiologi Geger Riyanto, rezim kolonial Belanda menganggap Tan Malaka orang yang berbahaya. Dia pandai meyakinkan orang, jago menggalang massa, dan penggugah pergerakan yang efektif. 

Tulisannya tak kalah bahaya. Sukarno dijatuhi hukuman saat diadili di Bandung karena ketahuan menyimpan buku terlarang Massa Actie (Aksi Massa) karya Tan Malaka. Pada 1925, jauh sebelum Sukarno membacakan proklamasi, Tan sudah menggagas ide mengenai "Republik Indonesia" dalam buku berjudul Naar de Republiek Indonesia yang lantas menginspirasi pergerakan dan pemikiran para tokoh bangsa.

Separuh hidup Tan dihabiskan sebagai buron, berpindah-pindah tempat ke berbagai penjuru dunia dengan 23 nama samaran. Harry Poeze menulis bahwa Tan tidak mudah percaya kepada orang. Tatkala meyakinkan tokoh pemuda Sukarni supaya mendorong Sukarno-Hatta guna cepat memproklamasikan kemerdekaan, Sukarni hanya mengetahuinya sebagai Ilyas Hussein, seorang kerani di pertambangan baru bara di Banten. Ilyas Hussein sendiri merupakan nama pena Tan sewaktu merilis Madilog, magnum opusnya yang disebut-sebut sebagai karya filsafat Indonesia modern paling berpengaruh.

Soal komunis, Tan memang pernah memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) dan menjabat wakil Komunis Internasional (Komintern) bentukan Rusia untuk wilayah Asia Tenggara, tapi seperti yang disebut Ben Ibratama Tanur di Tirto, Tan menganggap (gerakan) "komunis adalah alat, bukan tujuan" (negara komunis). Tan sendiri dikeluarkan dari keanggotaan PKI usai menolak rencana kelompok Prambanan menggelar pemberontakan PKI 1926/1927.

Sewaktu di Komintern pun pada 1922 Tan pernah mengkritik haluan Komintern yang mengambil pendirian antagonis terhadap Pan-Islamisme. Bagi Tan, Sarekat Islam dapat menjadi gerakan yang dapat mengembalikan kekuatan kepada para petani yang melarat di bawah kapitalisme kolonial.

Pendiriannya patut ditiru. Wildan Sena Utama, kolumnis Tirto menulis bahwa dalam pertemuan dengan Hatta pada 1922, Hatta mengungkapkan Tan ingin "negara yang berlaku dasar sama rata sama rasa, berlaku demokrasi sepenuhnya." Ia tidak menginginkan komunisme model Stalin. "Ia tidak mempunyai tulang punggung yang mudah membungkuk," tulis Hatta dalam memoarnya, Untuk Negeriku, Vol. 1: Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi.

Upaya Supaya Panjang

Kewajiban Rudi dalam memproduksi film Tan Malaka adalah video pendek durasi 23 hingga 30 menit. Tapi menurut seorang petinggi Dirjen, peluang meneruskan menjadi film panjang akan terbuka bila dapat menyelesaikan versi pendek, walau dana dari mereka tidak akan cukup untuk menjadi film panjang.

Jadilah Rudi berkeliling membawa film Tan Malaka ke berbagai kota dan daerah, bekerjasama dengan komunitas, berharap dapat mengumpulkan Rp 85 juta guna meneruskan Maha Guru Tan Malaka sebagai film panjang. Momen ini bertepatan dengan Rudi yang akan menginjak umur 40 pada 17 April. Satu mimpinya telah tercapai.

Saat ini Maha Guru Tan Malaka sudah tayang di Amsterdam yang digagas oleh PPI Belanda serta Malang yang mendapat kesempatan tayang perdana di tanah air. Bersiap-siaplah pada bulan-bulan mendatang, film ini bisa jadi akan hinggap di kotamu. Dukung dan tonton!

Tags: