Mengenal Microcinema, si Bioskop Mini Alternatif

By Marnala Eros, May 20, 2016

Mengenal Microcinema, si Bioskop Mini Alternatif

Selama ini, bisa dibilang mayoritas masyarakat Indonesia menganggap film hanya bisa didapatkan dengan datang ke bioskop besar yang terletak di dalam gedung mall, membeli DVD bajakan atau mengunduhnya secara ilegal. Tak heran jika industri perfilman seperti berjalan di tempat.

Padahal cukup banyak alternatif yang bisa dimanfaatkan. Layar tancap, misalnya. Masyarakat menengah ke bawah mungkin sempat akrab dengan nama tersebut. Namun faktor legalitas tentu akan selalu jadi persoalan. Kurasinya pun dipertanyakan.

Oleh karena itu bioskop alternatif atau microcinema merupakan pilihan menarik. Secara harafiah microcinema dapat bermakna film berbujet rendah yang didistribusikan secara terbatas atau bahasa lainnya film yang tidak akan ada jika tiada teknologi baru yang memudahkan pembuatnya untuk menekan biaya.

Tapi microcinema di sini bisa pula didefinisikan sebagai teater kecil dengan biaya perawatan yang juga relatif kecil guna menayangkan film-film berkualitas alias tidak bisa didapatkan di bioskop besar.

Pada Rabu (18/5), Yoodeo berkesempatan mengunjungi salah satu microcinema baru yang terdapat di jantung ibukota, yaitu Kinosaurus. Bioskop mini tersebut berada di belakang Toko Buku Aksara, Kemang, berdampingan dengan studio Ganara Art Space, kedai kopi Ruangseduh, dan laboratorium film Lab Laba Laba. Kinosaurus yang mulai dibuka sejak akhir 2015 diprakarsai oleh Adinda Simanjuntak (GM Aksara), Meiske Taurisia (produser film), serta Edwin, sutradara yang film-filmnya sering diputar di festival film luar negeri.

Pada malam itu Kinosaurus memutar tiga film pendek karya anak bangsa yang pernah diputar di ajang bergengsi Cannes Film Festival, Prancis yakni Kara, Anak Sebatang Pohon garapan Edwin, The Fox Exploits the Tiger's Might karya Lucky Kuswandi, dan Prenjak (In the Year of Monkey) oleh Wregas Bhanuteja. Ketika film terakhir diputar, Wregas dan kru masih berada di Cannes untuk menunggu hasil pengumuman sehingga obrolan dilaksanakan via Skype.

Namanya microcinema, kapasitas jelas terbatas. Sekitar 20an orang memenuhi ruangan dengan berbagai macam kursi santai dan kudapan serta gelas minuman yang menemani mereka. Sebelum menonton, terlebih dahulu berikan donasi yang sudah ditentukan yang nantinya bakal dipakai untuk membiayai perawatan ruangan itu juga. Simbiosis mutualisme. Para hadirin menyaksikan ketiga film dengan tenang dan fokus. Mereka yang hadir tentu tahu betul tujuan mereka datang ke situ. Bukan sekadar mengisi waktu.

Satu kelebihan microcinema tak lain adalah kurasi. Seperti yang sudah disebutkan, ini memang acara umum, tapi kapasitasnya sangat terbatas. Maka yang dikurasi tak cuma filmnya, tapi juga penontonnya. Keduanya terjaga. Kita tak akan ke sana jika tak benar-benar ingin menyaksikan film yang diputar. Maka faktor keniatan di sini sangat penting.

Bonus lebihnya? Bisa berbicara dengan sutradara yang bersangkutan mendiskusikan filmnya. Karena bisa dibilang acara tersebut adalah perayaan atas Prenjak, maka sutradara Wregas Bhanuteja dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan, misalnya tentang proses produksi dan makna yang terkandung dalam film.

Dari situ kita bisa tahu proses syuting yang cuma memakan waktu dua hari, tentang inspirasi Wregas yang berasal dari pengalaman temannya yang harus mengurus anak di bangku kelas 2 SMA, bahwa Prenjak adalah perpanjangan film pendeknya terdahulu, sampai film-film keren lain yang jadi kompetitor mereka di Semaine de la Critique, Cannes.

Microcinema adalah perpanjangan nafas para pembuat film dan kita sebagai penonton dapat berkontribusi guna mendukung karya mereka.

Maka keberadaan tempat seperti Kinosaurus patut disyukuri. Bersama-sama dengan Alternative Public Artspace, Paviliun 28, Ruang (PIK), dan tentu Kineforum, merekalah yang turut mengenalkan film-film bermutu kepada masyarakat. Kita selalu butuh mutu tertentu.

 

Catatan tambahan: Dua hari usai pemutaran di Kinosaurus, Prenjak menang Cannes untuk kategori film pendek terbaik. Sebuah kabar bahagia bagi masyarakat film Indonesia.

Tags: