Mengapresiasi Marlina

By Marnala Eros, May 9, 2018

Mengapresiasi Marlina

Budaya patriarki merupakan sistem sosial yang menempatkan posisi kaum laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, entah itu dalam hal partisipasi politik, pendidikan, ekonomi, sosial, agama, serta ekonomi. Sistem yang masih banyak dianut oleh sejumlah budaya di Indonesia ini menjadikan laki-laki memiliki hak istimewa terhadap perempuan. Sistem ini pula yang sering menjadi akar masalah kekerasan terhadap perempuan.

Pada 2016 saja, Komnas Perempuan mencatat adanya 259.150 kekerasan terhadap perempuan. Seperti dikutip dari Kompas, menurut Wakil Ketua Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah, kasus kekerasan terhadap perempuan selama 2016 lebih rendah dari tahun sebelumnya, namun secara realitas belum bisa disimpulkan kalau fenomena kekerasan telah menurun karena dia meyakini masih banyak kasus yang tidak dilaporkan.

Dalam ranah hukum pun terjadi diskriminasi terhadap perempuan. Contohnya terdapat pada Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan di mana dalam Pasal 4 UU Perkawinan menyatakan bahwa seorang suami diperbolehkan beristri lebih dari seorang apabila istri tidak dapat menjalankan kewajibannya, mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak dapat melahirkan keturunan. Tapi tidak ada pasal yang mengatur bila situasi itu dialami oleh pihak suami.

Selain itu, masih dalam UU Perkawinan Pasal 7 ayat (1), menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pria sudah mencapai umur 19 tahun dan perempuan sudah mencapai umur 16 tahun. Rendahnya batas usia minimum bagi perempuan seolah melegalkan perkawinan anak atau mudah sekali dijadikan senjata pelampiasan nafsu berkedok pernikahan.

Isu ini yang dibingkai Mouly Surya dalam film terbarunya bertajuk Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Mouly yang kerap menyuarakan feminisme melalui para karakter perempuan dalam film-film terdahulu kali ini menciptakan sosok wanita yang tidak berdiam diri ketika segala kepunyaannya direnggut. Racun, pedang, dan keberanian jadi senjatanya membasmi pria-pria yang merasa lebih berkuasa atas dirinya.

Sebuah desa di Pulau Sumba di mana matahari bersinar terang di atas tanah gersang dan sabana yang terhampar luas didapuk menjadi latar tempat keempat fragmen. Sumba sendiri terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur di mana budaya patriarki masih sangat kental. Laki-laki adalah raja yang mesti dilayani; merekalah kepala keluarga, pencari nafkah, sekaligus pemimpin. Anehnya, ketika kemiskinan menghimpit, perempuan yang mesti berkorban. Dikutip dari Aliansi Laki-Laki Baru, dalam laporan Rumah Perempuan Kupang, di mana dari 2012 sampai Juli 2015, terjadi setidaknya 312 kasus perdagangan perempuan. Dalam skala yang lebih luas, menurut International Organization for Migration (IOM) Indonesia pada 2014, setidaknya 7.193 orang dengan 82 persen perempuan dan 18 persen laki-laki diidentifikasi sebagai korban tindak perdagangan orang.

Kembali ke Marlina yang diperankan dengan dingin oleh Marsha Timothy. Selama 90 menit dirinya berburu keadilan, yang ironisnya - seperti sering terjadi dalam berbagai aspek di negeri ini - terbentur birokrasi, tampak jelas saat dirinya menuju aparat berwajib. Meminta visum dari dokter saja butuh waktu satu bulan karena alat visum kudu menunggu dana turun dari pusat. Marlina lelah sembari diliputi rasa bersalah. Kepala sang perampok yang dibawanya selama perjalanan, yang membuat para pria bergidik ngeri menatapnya, pada akhirnya tidak hinggap ke tujuan semula. Nurani Marlina membuatnya memilih menyelamatkan Novi (Dea Panendra), satu lagi karakter perempuan yang amat memikat, bahkan sanggup "menandingi" Marlina sepanjang film.

Ada sebuah adegan menarik yakni ketika Marlina dan Novi bercerita kisah satu sama lain sewaktu sedang kencing; lakon yang umum terjadi dalam film-film Indonesia maupun luar negeri, namun biasanya antara dua pria. Dalam suatu kesempatan saat sedang diwawancara, Mouly mengaku bila itu merupakan salah satu adegan favoritnya dalam film ini. Patut diamini. Kesempatan langka menyaksikan sejumput adegan film Indonesia yang lulus tes Bechdel.

Secara pribadi saya merasa terdapat beberapa kekurangan kecil yaitu soal keberadaan kotak dan karakter Frans (Yoga Pratama) yang tidak dieksplorasi lebih jauh, walaupun di satu sisi saya mengerti mengenai ketiadaa fokus di sisi itu. Tak apa, secara keseluruhan film berhawa "panas" ini merupakan kesegaran anyar bagi perfilman Indonesia yang semakin hari makin menunjukkan perkembangan menggembirakan. Semoga esok semakin baik lagi.