Laporan dari Makassar: Gagal Mewawancarai Ifa Isfansyah

By Marnala Eros, Nov 11, 2016

Laporan dari Makassar: Gagal Mewawancarai Ifa Isfansyah

Perjalanan Yoodeo ke Makassar dalam rangka menghadiri lokakarya pembuatan film SEAscreen Lab 2016 memunculkan sejumlah cerita, baik internal maupun dari pihak eksternal. Ada yang layak untuk dibagi, ada pula yang baiknya disimpan sendiri.

Yoodeo diundang langsung oleh Riri Riza selaku empunya acara guna mengisi salah satu sesi seminar, dengan tujuan mengenalkan potensi digital media yang menyimpan manfaat besar kepada para pembuat film di masa mendatang. Elvin Kustaman, Business Development Yoodeo, berbagi kesempatan dengan figur perfilman nasional yaitu Mouly Surya dan Robert Ronny di seminar hari pertama. Kedua nama terakhir berbagi pengalaman dan cerita-cerita terpendam mengenai kondisi pasar film nasional dan posisi film Indonesia di pasar global.

Misi lainnya adalah sesi wawancara dengan Ifa Isfansyah. Ya, pembuat film muda ini juga merupakan salah satu pembicara di hari kedua seminar bersama Riri Riza (yang saat ini ditulis baru menyabet Sutradara Terbaik FFI 2016) dan salah satu pembesut film lokal fenomenal Uang Panai, Halim Gani Safia. Tema yang diangkat adalah potensi film lokal dalam pasar film regional. Kenapa Ifa? Tak lain karena Siti, film berbujet kecil yang dia produseri meraup sukses sebagai Film Terbaik di FFI 2015 dan terbilang baik secara kualitas. "Walau ditolak beberapa festival sempat bikin putus asa," tukasnya. Edisi kali ini juga bukan yang perdana bagi Ifa karena dirinya juga diundang pada edisi 2015.

Lalu kenapa Yoodeo memilih Ifa guna diajak berdialog? Sejujurnya, entah. Keputusan memilihnya juga tidak direncanakan dari jauh hari dengan membuat janji. Mengalir saja. Ketika bertemu dirinya untuk pertama kali di sebuah jamuan makan siang bersama para sutradara lain, sosok Ifa yang irit bicara justru membuat Yoodeo tertarik guna "menggali" dirinya lebih dalam. Keputusan ini turut didukung oleh kemungkinan lain yang tidak mendukung seperti Mouly Surya yang tak punya cukup waktu karena harus pulang keesokan hari, Riri dan Mira Lesmana yang jelas sibuk karena SEAscreen adalah tanggung jawab mereka (Mira sendiri tak jadi bicara di seminar akibat karena masalah tenggorokan), serta wacana obrolan bersama Robert Ronny yang disimpan untuk nanti saja di momen yang tepat. Halim Gani? Seharusnya dia lebih dari pantas menerima ajakan berdialog, namun karena satu dan lain hal Yoodeo pun harus menunda kesempatan bersama dengannya. Semuanya terbungkus dalam sempitnya waktu.

Yang pasti, variabel seorang Ifa Isfansyah begitu menarik. Dia adalah sutradara Indonesia paling berbakat dan mapan untuk saat ini. Pada usia 36 tahun sosok asli Yogyakarta ini sudah meraih Piala Citra sebagai sutradara dan produser, aktif di komunitas lokal, karya-karyanya (pendek dan panjang) cukup dikenal khalayak luas, serta sempat menimba ilmu film di luar negeri, membuat dirinya cukup fasih jika diajak membahas kondisi industri film Indonesia kini dan bagaimana posisi karya seni film di pentas regional.

Lantas apa yang membuat wawancara bersama Ifa tidak berhasil?

Yoodeo tiba di ibukota Sulawesi Selatan, berangkat dari ibukota negara di pagi hari pertama seminar pada 13 Oktober. Makassar yang tropis selayaknya daerah pesisir pantai menambah kantuk di pelupuk mata karena memang waktu istirahat yang cuma di pesawat saja. Sebelum beristirahat sejenak di kamar hotel, Riri Riza mengajak Yoodeo bersama para tamu mentor dan pembicara ke sebuah restoran ayam goreng yang lokasinya tak jauh dari penginapan.

Makanan enak dibarengi dengan obrolan yang tak kalah menarik bersama garda depan pembuat film Indonesia, termasuk mereka yang sudah disebutkan di atas: Riri, Mira dan putranya, Mouly Surya, Robert Ronny, Lasja Fauzia, serta tentu saja Ifa Isfansyah. Di suatu obrolan 'grup dalam grup', produser-penulis Robert Ronny sempat mengungkapkan kesukaannya pada olahraga sepakbola dan game konsol FIFA 17. Dari Liga Italia Serie A hingga Premier League, Ronny tampak fasih berbicara soal momen sepakbola terkini, bahkan napaktilas sedikit Euro 2016.

"Ada banyak fitur baru di FIFA 17, tapi karena kesibukan sehari-hari jadi tiap malam main satu dua pertandingan saja, belum nyobain yang lain-lain," ujar Ronny, penggemar timnas Italia. Ifa hanya menimpali sederhana, "Kalau saya, dukung yang menang saja."

Selepas santap siang rombongan kembali ke hotel untuk acara selanjutnya yaitu pertemuan dengan para peserta SEAscreen dan seminar pasar film global oleh Mouly, Ronny, Elvin, dan Riri sebagai moderator. Pada waktu itulah Yoodeo terbersit mewawancarai Ifa. Ketika acara berakhir pada sore menuju malam dan sudah harus menuju ke Wisma Kalla untuk jamuan makan malam, barulah Yoodeo mendapat kesempatan "masuk jadwal" di tengah kesibukan Ifa. Gayung bersambut, dengan senang hati Ifa menerima ajakan berdialog. Mulanya, wawancara yang dijanjikan secara lisan bakal berlangsung pada keesokan siang sebelum Ifa berbicara di seminar hari kedua. Tak apa-apa, 30 menit sudah lebih dari cukup.

Pada malam itu Yoodeo tidur dengan tenang, bahagia karena berkesempatan untuk berdialog dengan salah satu sutradara muda nan mapan tanah air.

Kenyataan dalam relativitas waktu

Hari kedua di pulau seberang dimulai di sebuah siang yang cerah. Kelelahan akibat kurang tidur dan kenikmatan kuliner pemancing kolesterol ala Makassar bisa jadi penyebab tidur yang sangat nyenyak, ditambah dengan lowongnya agenda. Pikiran telah bertolak menuju sehabis makan siang. Waktu-waktu yang rawan. Tapi semesta seperti sudah memberikan tanda, hanya mata ini terlalu "buta". Kelezatan Coto Ranggong jadi kurang berbumbu karena Ifa yang harus bekerja di kamar hotel menggeser janji wawancara ke jam makan malam. Kewajibannya mengisi seminar akan membuat waktu sangat sempit dan ketat, macam celana anak punk. Sekali lagi, tak apa-apa, mungkin inspirasi pertanyaan tambahan akan muncul tatkala menyaksikan dirinya berbagi pengalaman soal Siti.

Ada dua kali jamuan makan pada malam itu. Yang pertama saat acara pengumuman pemenang SEAscreen 2016 yang dikolaborasikan dengan pameran foto di Rumata Artspace. Sebetulnya Ifa cukup lowong, namun kondisi yang tidak memungkinkan di mana suara musik berkumandang kencang membuat Yoodeo hanya bisa ikut menikmati acara dan berharap agar diberi jalan lapang oleh Yang Kuasa. Namun tetap tidak ada kemudahan di malam terakhir. Ketika jamuan malam kedua di sebuah restoran mie, waktu sudah menginjak tengah malam dan tidak ada pilihan selain beristirahat. Yoodeo sendiri yakin Ifa mau menyisihkan sedikit waktu pada malam itu, tetapi lagi lagi, waktu yang sangat sempit menjadikan keadaan tidak kondusif.

Jabat tangan (yang dikira terakhir sebelum berpisah) pun menutup malam yang sendu; gagal mendapatkan incaran seharian. Bagai anak kecil yang dijanjikan mainan baru di akhir semester namun tak kunjung dibelikan. Sisi positifnya, Ifa sempat berujar kalau wawancara boleh dimundurkan saja, entah di Jakarta atau di Yogyakarta tempatnya bernaung, mengingat ada festival film tahunan yang berlangsung tiap Desember dan besar kemungkinan Ifa ada. Tapi selayaknya posisi menentukan prestasi, berbeda situasi jelas mengubah mood yang sudah tersusun rapi.

Terkadang kesempatan memang tak datang sama sekali

Esoknya Yoodeo sudah harus berangkat subuh dari hotel menuju bandara dikarenakan jam penerbangan pagi. Tak disangka, ternyata Ifa juga dijadwalkan menuju Jakarta pada jam yang identik dan kami berada dalam mobil panitia yang sama. Hati dan pikiran bergejolak. Haruskah menempuh resiko bertanya, "Mas Ifa, mau wawancaranya sekarang saja?" dengan pergulatan batin bahwasanya hal tersebut sama sekali tidak etis. Bukan begitu memperlakukan narasumber. Tidak pada waktu dan tempat yang tepat.

Sepanjang perjalanan sekitar 20 menit lebih ke bandara pikiran liar terus berputar. Penyesalan sempat berlabuh, namun untungnya tak dibiarkan berlama-lama. Berharap ada momen yang lebih baik dari ini di waktu nanti. Begitu mobil memasuki bandara, sekelebat pengandaian semu pun menghilang. Selamat tinggal Yoodeo ucapkan pada narasumber impian.

Tatkala sedang mengantri check-in, seorang rekan berbisik, "Tenang, kita kejar pas di Yogyakarta nanti," merujuk gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival alias JAFF 2016 yang bakal berlangsung akhir November.

Pikiran melayang jauh mengangkasa bersama burung besi yang membawa umat di dalamnya, terus berharap kesempatan itu akan tiba.

 

Sumber Foto: Kaskus

Tags: