Jangan Cuma Content, Brand Pun Harus Memperhatikan Komunitas

By Marnala Eros, Dec 16, 2016

Jangan Cuma Content, Brand Pun Harus Memperhatikan Komunitas
Ogilvy & Mather menerbitkan Red Paper berjudul The Digital Social Content yang bakal membuat agensi lain sirik. 41 halaman pertama berisi insight strategi dan sejumlah data penting. 59 halaman terakhir mengulas tren terkini dalam bisnis digital video marketing serta memaparkan petunjuk taktis yang sekilas tampak membuat "orang tua" - para petinggi perusahaan yang besar pada tiga-empat dekade lalu - menderita karena terpaan teknologi.
 
Kenapa? Karena brand, pengiklan, dan perusahaan media tak lagi memegang kontrol utama. Dalam laporan tersebut, Ogilvy & Mather mengulas Negara YouTube yang populasinya kini telah mencapai lebih dari 1 miliar kepala.

6 Tren yang Menyulut Revolusi Komunitas

Negara YouTube punya bahasa, budaya, dan pahlawan lokalnya sendiri. Sekarang ini, dapat disimpulkan bahwa mayoritas pemangku kekuasaan dalam eyeballs business masih tidak berbicara bahasa tersebut, tidak familiar dengan budayanya, dan tidak tahu siapa saja pahlawan dalam YouTube Nation. Sangat disayangkan. Peluang yang terbuka lebar inilah yang kemudian disambar, kemudian dipelajari dan diperdalam oleh anggota komunitas.
 
Berikut 6 tren dalam bisnis digital video marketing yang menurut The Digital Social Contract turut menyulut revolusi kreator:
 
1. Passion Mengalahkan Production: Pemirsa bisa melihat passion yang autentik. Mereka pun bisa mencari tahu apakah sebuah content merupakan strategi untuk menarik perhatian saja atau tidak. Berkat Internet, semua orang bisa menjadi pintar.
 
2. Komunitas adalah Raja, Bukan Content: Memahami generasi baru komunitas dan basis penggemar merupakan kebutuhan penting. Kelompok baru dan segar ini yang mendikte bagaimana social platform bersumbangsih untuk brand, jadi berjalanlah bersama mereka.
 
3. Janganlah Hit-driven, Melainkan Engagement-driven: Komunitas penggemar tidak bisa cuma diajak "berbicara". Mereka butuh ruang untuk berkolaborasi.
 
4. Berpikir Sederhana untuk Mencapai yang Besar: Terima kasih untuk engagement yang sedang berjalan antara kreator dan penggemar. Sekarang kreator dapat menopang bisnis niche secara finansial ketimbang sebelumnya.
 
5. Buatlah Semesta, Bukan Hanya Content: Buatlah content yang sesuai untuk setiap platform. Itulah kenapa tiap brand butuh strategi video multi-platform karena satu saja sudah tidak cocok lagi untuk semua.
 
6. Pendapatan Bertumbuh Ketika Content Terbenam: Generasi Mobile benci dijual begitu saja, setidaknya dengan cara yang kentara sehingga brand perlu lebih kreatif bila menyangkut revenue stream.
 
Ada sekitar 20 halaman berisi sejumlah bukti yang mendukung enam tren di atas. Detailnya bisa Anda simak di Red Paper. Anda akan butuh waktu untuk memikirkannya karena tactical advice yang disediakan Ogilvy & Mather bakal terlihat kontra-intuitif atau kontroversial bagi siapa saja di luar usia 12-30 tahun dan yang tidak lahir dan dibesarkan di era Internet.

Brand Harus Bertindak Agar Sejalan dengan Audiensnya

Menurut The Digital Social Contract, ada empat tindakan yang mesti diambil brand agar bisa bergerak maju dalam koridor online content dan tiap-tiap poin ini secara tidak langsung menganjurkan supaya Anda keluar dari pakem-pakem iklan televisi:

1. Tahu Bahwa Komunitas adalah Raja

Brand harus berpindah dari istilah 'user'/pengguna dan 'konsumen', alih-alih memperlakukan orang sebagaimana diri mereka - anggota komunitas dan partisipan aktif.

2. Bekerjalah dengan Influencers yang Benar-benar Punya Passion

Brand harus belajar banyak dari kreator yang membuat konten yang bicara kepada audiens.

3. Tingkatkan Pendapatan dengan Membiarkannya Terbenam

Memaksa iklan pre-roll Anda kepada audiens kreator video online merupakan hal yang mengganggu dan merusak hubungan antara pemirsa dengan konten pada saat itu juga. Itulah kenapa YouTube mengembangkan pre-roll TrueView yang dapat di-skip; mereka memahami gangguan tersebut dan ingin mengurangi ketidaknyamanan.

4. Memelihara Engagement

Brand selalu kesulitan membangun hubungan nyata dengan penggemarnya karena secara tradisional brand ingin menjual produk, bukan membangun persahabatan. Tapi keadaan berubah, dan lanskap digital yang baru mengharuskan pengiklan guna melakukan hal tersebut. Kini brand harus berkolaborasi dengan kreator dan influencers, serta memunculkan hubungan intim dengan audiensnya.
 
Menurut Red Paper-nya Ogilvy & Mather, video online adalah "sui generis", istilah Latin untuk "jenis tersendiri; kelas tersendiri; unik." Mereka menyimpulkan: "Kesempatan luar biasa menunggu bagi para brand yang dapat memecahkan ini semua."
 
 
Tags: