JAFF 2016: Dominasi Sinema Indonesia dan Dialog Lintas Komunitas

By Marnala Eros, Dec 14, 2016

JAFF 2016: Dominasi Sinema Indonesia dan Dialog Lintas Komunitas
Titik-titik air yang membasahi Grhatama Pustaka menandakan bumi belahan timur, khususnya regional Asia Tenggara, telah berada di pengujung tahun. Di wilayah tropis seperti Indonesia, akhir tahun adalah musimnya hujan. Tak pelak udara Yogyakarta lebih sejuk dari biasanya. Posisinya yang hanya sekitar dua jam perjalanan dari garis Pantai Selatan membuat terik matahari yang menjadi-jadi sebagai anugerah sehari-hari. Tapi sekali lagi, ini akhir tahun sehingga walau inframerah berganti bulir air, para penikmat film dan sineas di Kota Gudeg tetap bersatu merayakan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang tahun ini memasuki edisi ke-11, sebuah festival film yang difokuskan untuk pengembangan perfilman di regional Asia Pasifik.
 
Grhatama Pustaka sendiri merupakan perpustakaan umum yang terhitung baru, diresmikan persis setahun yang lalu. Gedung empat menara yang berdiri di atas lahan seluas 2,4 hektare tercatat menghabiskan dana pembangunan sekitar Rp 70 miliar guna menjadi perpustakaan terbesar di Indonesia, bahkan kabarnya yang terbesar di Asia Tenggara (informasi yang beredar luas di internet dan kontan menjadi kebanggaan masyarakat yang menjunjung tinggi nasionalisme). Semoga besar dan megah tak cuma jadi aksesori penarik minat, melainkan benar-benar fungsinya tersampaikan; sarana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi bagi masyarakat luas. Kendati tak bisa dipungkiri bahwa minat baca orang Indonesia sangat rendah dan anak muda lebih memilih bersantai di mall, coffee shop, atau depan layar masing-masing daripada ruang berisi buku.
 
Yang juga menarik, menurut keterangan salah seorang panitia tak ada biaya yang dikeluarkan untuk menyewa Grhatama Pustaka. "Harus gratis," ujarnya.
 
Fungsi rekreasi sendiri tercermin lewat penyelenggaraan JAFF, di mana Grhatama Pustaka menjadi arena berkumpul puluhan pembuat film muda yang tergabung dalam berbagai komunitas dari seluruh Indonesia. Hujan yang hendak "mengganggu stabilitas" acara tak kuasa menyurutkan animo. Beberapa mahasiswa anteng saja menikmati bacaannya masing-masing sambil menunggu, sementara yang lain tampak menikmati sesi Forum Komunitas, salah satu program utama di JAFF tahun ini. Ketika Yoodeo tiba di sana dalam rangka menyebarluaskan kabar baik bagi para pembuat film, presentasi Layaria masih berlangsung. Dalam program yang sama pula terdapat Kaninga Cinema dan BEKRAF.
 
Sekitar pukul empat sore, Yoodeo memulai sesi. Ruangan yang cukup besar membuat kursi tak seluruhnya terisi, hanya empat sampai lima baris panjang yang solid. Banyak yang hadir merupakan anak-anak muda penikmat dan pembuat film yang tergabung dalam komunitas yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia seperti Ambon, Kebumen, Banjarmasin, Kendari, Sukabumi, Batam, Bandung, hingga Makassar.
 
Mereka merupakan millenials yang berkarya serta sedang mencari jalan tentang bagaimana melempar buatan mereka ke masyarakat. Apa yang harus dilakukan agar publik menemukan karya mereka, atau lebih lagi, bagaimana pelaku bisnis mau mempercayakan proyeknya kepada para pembuat film muda ini, alih-alih berpaling ke nama-nama senior. Iklim ini coba disorot oleh JAFF dengan memberikan tempat kepada Yoodeo dan Layaria di mana komunitas sebagai penyedia konten kreatif harus/bakal dibutuhkan oleh para pelaku bisnis yang butuh ide atau konten video guna nantinya ditayangkan melalui media-media alternatif.
 
Mundur sejenak ke belakang. Beberapa pekan sebelumnya, Yoodeo mampir ke Makassar guna menunaikan misi serupa; mengenalkan konsep Yoodeo kepada khalayak luas dan muda (baca: paham teknologi). Cakupannya Indonesia bagian timur. Namun jika dibandingkan dengan audiens Yogyakarta, level keaktifan kedua kota sangatlah berbeda. Mungkin ada faktor ketika di Makassar, Yoodeo ditempatkan bersama pembicara lain yang ceritanya lebih menarik untuk audiens di sana. Sedangkan di Jogja, Yoodeo diberi sesi khusus, sehingga perhatian audiens benar-benar tertuju kepada Elvin Kustaman yang mewakili kami. Topik pertanyaan terbentang. Dari persoalan teknis hingga contoh kasus seperti pencurian ide dibahas oleh teman-teman komunitas bersama Elvin. Sampai sesi berakhir pun masih ada beberapa anggota komunitas yang bertanya satu-dua hal sebelum bersama-sama berangkat menuju Taman Budaya Yogyakarta (TBY) yang juga menjadi salah satu lokasi perhelatan.
 
Selain Grhatama Pustaka dan TBY, ada Empire XXI yang turut menjadi tempat penyelenggaraan JAFF, serta program Open Air Cinema yang tersebar di tiga titik yakni Tebing Breksi, Plasa Ngasem, dan Amphiteater Grhatama Pustaka.
 
Pada edisi 2016, total ada 138 film dari 27 negara yang diputar (meningkat dari tahun sebelumnya, 23 negara). Selain film-film dari negara Asia dengan kondisi sinema maju seperti Korea Selatan, Jepang, dan Iran, JAFF menasbihkan film dari negara Kirgizstan, Travelling With Bomb karya Nurlan Abdykadyrov, sebagai film penutup.
 
Catatan menarik dari daftar pemenang. Tahun ini ada lima film Indonesia yang berhasil meraih penghargaan dari enam kategori yang tersedia. Selain itu ada tiga film Indonesia yang jam putarnya ditambah akibat tingginya antusiasme pengunjung yaitu Ziarah karya BW Purbanegara, Salawaku besutan Pritagita Arianegara, dan film terbaik JAFF 2016: Istirahatlah Kata-Kata arahan Yosep Anggi Noen.
 
Jika mengacu fakta tersebut, bisa dibilang film Indonesia sudah berhasil menjadi raja di negeri sendiri.
 
Akankah tahun depan tercipta prestasi serupa?