Ismail Basbeth: 'Saya Percaya Fleksibilitas Itu Penting'

By Marnala Eros, May 24, 2016

Ismail Basbeth: 'Saya Percaya Fleksibilitas Itu Penting'

Ismail Basbeth layaknya pemuda lain dengan ciri khas pasca reformasi: melek digital. Sebagai generasi transisi (dia masih duduk di bangku SMP ketika peristiwa 1998 terjadi), alih-alih apatis Basbeth justru serupa rekan-rekan sepantarannya dalam memandang keterbukaan teknologi yakni memanfaatkan peluang sebaik mungkin. Baginya, adaptasi dan fleksibilitas adalah kunci.

Film panjang pertamanya Another Trip to the Moon adalah satu dari sedikit film nasional yang tidak bisa ditemukan di bioskop komersial namun sekarang pun Anda bisa mendapatkannya lewat sewa digital. Film-film pendek yang jadi batu loncatannya juga beberapa bisa Anda nikmati secara daring. Tetap saja, masyarakat luas jelas belum sepenuhnya paham dengan cara-cara tersebut. Namun tentu Basbeth punya alasan kuat yang kemudian dikemukakannya ketika berbincang dengan Yoodeo.

Baru pada dua film berikut, Mencari Hilal serta Talak 3, Basbeth membuka pintu selebar-lebarnya bagi masyarakat untuk mengakses jejak pemikirannya. Sutradara kenamaan Hanung Bramantyo berperan  atas keterlibatannya di dua film itu. Masih, Basbeth menganggapnya sebagai perjalanan mencari ilmu perfilman yang tidak ia dapatkan semasa bersekolah.

Kini pada umur 30 tahun filmmaker asli Wonosobo tersebut sudah memutarkan karyanya di Rotterdam, Sydney, Busan, Kopenhagen, Tokyo, Hongkong, Vladivostok, telah mengantungi nominasi Piala Citra lewat Mencari Hilal (bersaing dengan pemenang Joko Anwar, Angga Dwimas Sasongko, Eddie Cahyono), ditonton oleh setengah juta lebih pemirsa melalui Talak 3, dan terus berhasrat menelurkan rekaan gambar yang masih jarang Anda temui di negeri ini dengan kendaraan rumah produksi Hide Project Films dan laboratorium seni kreatif Bosan Berisik Lab.

Kepada Yoodeo, Basbeth berbicara panjang lebar mengenai filosofinya dalam mengerjakan film, berbagai proyek yang telah dan akan digarap, nasib sinema di era digital, sampai fenomena Yogyakarta sebagai ladangnya seniman film nasional.

Kenapa di YouTube cuma mengunggah beberapa film pendek saja (dari total 10)?

Waktu aku bikin akun itu dulu, idenya mau merilis karya-karya kami yang kebanyakan itu kan karya-karya gotong royong ya, supaya teman-teman yang terlibat juga bisa mengakses film itu bersama dengan publik. Tapi persoalannya kalau film itu ditaruh di YouTube sejak awal, itu kan sudah milik publik. Ini susah di festivalnya.

Beberapa festival itu nggak mau kalau filmnya sudah ada di YouTube. Jadi kemudian beberapa karya di-upload duluan, tapi yang lain belum karena usia festivalnya masih jalan. Jadi waktu itu pertimbangannya itu.

Jadi karena ada film pendek Anda yang mau diikutkan festival?

Pada waktu itu. Kemudian aku kan sibuk yang lain, teman-teman sibuk yang lain, akunnya belum diperbaiki. Tapi kami udah titipin beberapa film pendek yang lain di Kineria, Buttonijo, supaya tetap hidup. Biar karyanya nggak berhenti.

Ingin menonton film pertama Anda (Another Trip to the Moon) juga tidak mudah ya?

Ya memang nggak gitu. Memang filmnya didesain tidak untuk publik.

Tidak tayang di bioskop secara luas ya?

Ya di festival. Di beberapa festival. Di Indonesia hak distribusinya ada di Buttonijo, karena itu bagian dari kesepakatan. Supaya hidup semua kan. Dia bantuin aku, aku bantuin dia.

Pendanaan juga dari mereka, bukan?

Sedikit, sebagian kecil dari mereka. Sebagian besar dari orang lain. Aku nggak ngomongin angka ya. Kalau ngomongin angka kesannya kerdil banget. Tapi yang penting bagaimana kemudian Buttonijo punya ruang distribusi baru, ya kita harus dukung. Setiap langkah yang kami lakukan, saya sudah selalu menghitung dampaknya ke banyak orang. Karena kalau yang dapat cuma aku, Indonesia itu masih sangat kecil pelaku industrinya dan sulit sekali jika kami menanggung beban itu sendiri. Mending di-share aja.

Siapa tahu mungkin dengan munculnya talenta-talenta baru atau akses-akses publik ini di wilayah-wilayah yang sangat publik, misalnya YouTube atau pemutaran-pemutaran khusus di seluruh Indonesia, orang di Makassar yang nggak bisa datang ke pemutaran filmku yang mungkin cuma di Jawa karena daya putarnya cuma bisa sampai di situ dulu, tetap bisa nonton dan punya bahan untuk diskusi. Idenya seperti itu. Cuma yang sulit dari Another Trip to the Moon, penonton filmnya sendiri sangat selected, tho. Jadi kami dari awal memang nggak menargetkan ini sukses secara komersial.

Anda adalah orang yang melek digital. Apa harapan Anda terhadap industri film di era digital?

Digital itu tampak murah, tampak gampang, tapi adalah kultur yang sama sekali berbeda. Tapi setiap kultur yang sama sekali berbeda ini perlakuannya tumbuh dari kultur sebelumnya, tho? Misalnya film. Film di era digital dengan film di era jaman dulu sama sekali berbeda perlakuan industri dan impact kecil-kecilnya sampai yang besar.

Tapi film itu kan (tetaplah) film, begitu lho. Jadi artinya digital adalah bagian dari pengindustriannya. Kalau film kan sebetulnya storytelling, mediumnya bisa berubah-ubah. Selama dia punya sifat storytelling dan punya unsur sinematik, artinya direkam dengan sesuatu yang punya sifat sinematik, dia akan tumbuh terus.

Saat ini kita harus mengakui kalau digital adalah era sekarang. Daripada menolak, kenapa kita tidak beradaptasi dan melihat kemungkinan lain untuk kemudian di masa depan, mungkin seratus atau lima puluh tahun dari sekarang akan muncul kultur yang lebih baru lagi. Mungkin saja, karena manusia terus berkembang. Ini yang kemudian harus kita sikapi bareng. Bagaimana kemudian ini tumbuh tanpa kita menghilangkan esensi atau prinsip yang sangat manusiawi di diri kita, misalnya kesenimanan atau bisnis.

Apa saja proyek Anda di depan?

Aku ada beberapa proyek yang lagi dikembangkan. Pastinya personal project, beberapa sama pihakku sendiri. Beberapa lagi penjajakan sama produser-produser di Jakarta, ada beberapa tawaran bersifat kolaboratif. Saya bekerja untuk mereka atau bekerjasama dengan mereka.

Tapi berbarengan dengan itu saya lagi menyiapkan proyek-proyek saya sendiri yang belum tahu syutingnya kapan tapi proses menulisnya sendiri sudah mulai. Karena orang independen atau orang alternatif itu kan nggak bisa menggantungkan nasib sendiri sama orang lain. Jadi saya harus selalu punya proyek-proyek personal untuk bisa jadi ruang bermain, eksperimentasi, atau pelampiasan.

Itu yang harus selalu saya punya, ruang bernafas. Karena saya sekarang sudah sampai di tahap film bukan mainan saja. Film adalah pekerjaan profesional saya. Kalau 13 film pertama saya, sampai Talak 3 itu, saya bikin film cuma yang saya mau. Film yang saya pilih untuk jadi jawaban dari PR (pekerjaan rumah)-ku sebelumnya. Intinya kepentingannya ada di saya. Tapi kan kalau sekarang di Talak 3, apalagi di film itu saya kerjasama dengan MD dan Mas Hanung (Bramantyo) secara profesional.

Bekerja menyutradarai itu pertama kali dalam sejarah panjang saya kerja. Saya memang belum pernah. Makanya setelah 12 film aku merasa, "Mas, kayaknya aku pengen deh kerja yang cuma direct tok. Tapi tujuanku penonton. Aku pengen nyoba, bisa nggak sih. Karena memang aku belum pernah. Ternyata dicoba sekali, bisa.

Talak 3 cukup lakulah ya, maksudnya 500-560 ribu. Paling tidak produsernya nggak rugi. Ada keuntungan yang berputar. Buat saya? Saya luluslah. Berarti saya kan sudah mengalami semua, sudah belajar semua. Maka saya sudah nggak bisa dong ngomong baru atau masih belajar. Nggak bisa. Makanya saya menganggap sekolah film saya, karena saya nggak sekolah, sepuluh film pendek saya itu adalah sekolah S1.

Tiga film panjang ini dengan desain yang berbeda. Capaian dan penonton yang berbeda, bahkan partner yang berbeda, dan keroyokan semua kan ini. Dua film panjang yang pertama props-nya banyak banget. Sampai Talak 3 adalah proses S2. Jadi mengaplikasikan apa yang saya pelajari di S1 untuk tujuan-tujuan yang berbeda dan desain yang berbeda. Yang kayak saya itu sebenarnya masih saya doang.

Saya bukan cuma arthouse. Sudah arthouse, eksperimental lagi. Itu sudah kecil, terus lebih kecil lagi. Saya bersyukur sekali di film panjang pertama saya bisa yang eksperimental gitu, terus di film kedua bisa arthouse, film ketiga saya benar-benar yang sangat ngepop, sangat komersial, mainstream. Saya sudah bersyukur banget. Saya nggak bisa ngeluh lagi. Udah cukup untuk saya meluluskan diri saya.

Maka angle saya sekarang, bagaimana kemudian pengetahuan yang saya miliki, katakanlah sikap-sikap yang saya miliki terdidik dengan cara ini, kemudian berguna untuk orang lain dan saya sendiri. Maka saya harus menjalankan kedua rodanya. Karena saya memang bisa di wilayah bisnis. Bisa di wilayah tengah bisa di wilayah kiri.

Beda banget ya, saya punya tiga dunia yang berbeda. Sejauh ini teman-temanku juga nggak ada yang protes, artinya mereka paham itu dan tetap mau kerja dan ada beberapa temanku yang maunya kalau saya ngerjain film-film yang eksperimental doang gitu dan saya sangat fleksibel. Karena saya percaya fleksibilitas itu penting dan untuk menjadi fleksibel kita butuh pengetahuan, makanya saya belajar dari orang-orang ini, dari proses ini selama 10 tahun, dari 13 film.

Sekarang tujuan saya adalah bagaimana secara kualitas, mau di wilayah mana saja saya bekerja, kualitasnya tetap bagus. Tetap punya ukuran, punya standar. Jadinya nggak mau maksain, misalnya saya

kerja sama Pak Raam (Punjabi), terus 'Pak Raam bikin film eksperimental yuk'. Lho ya nggak mungkin. Tapi bagaimana saya kerja sama Pak Raam. 'Oke, yuk kerja nih, komersial, misalnya apa, terus misal filmnya sukses. Terus misalnya saya dapat bonus. Dari bonus itu saya bisa bikin karya personal. Itu kan bisa tetap diselang-seling gitu lho dan buat saya itu no problem.

Itu independen. Independen buat saya adalah bagaimana kamu bisa bertemu dengan siapapun, bekerja dengan siapapun tapi nggak kehilangan dirimu sendiri. Saya independen, dan itu yang bikin saya percaya diri karena bisa punya ukurannya. Sebelumnya pernah belajar, pernah nyoba langsung gitu lho. Nggak cuma belajar film yang teori, tapi bagaimana belajar dikit, praktik, belajar dikit, praktik, sampai 10 tahun.

Makanya kalau sekarang saya datang ke Jakarta, kerja sama orang Jakarta terus sama Production House yang gede, "Tapi pak saya masih belajar." Dia nggak akan kasih. Dia akan selalu melihat, "Ini gimana sih filmnya udah banyak kok ngomongnya masih belajar?"."Ini orang sok merendah atau apa". Jadi nggak perlu begitu, santai saja. Oke kalau filmnya gini berarti gini, santai saja dan we'll see what's gonna happen. Kita juga nggak tahu kan. Saya jadi filmmaker saja ngak rencana. Ikutin saja.

Berarti keunggulan Anda ada di fleksibilitas?

Saya pengennya itu memang dari dulu. Makanya sejak film pendek, Mas Riri (Riza) dulu pernah komentar pas nonton film pendekku yang dia tonton di FFD (Festival Film Dokumenter, Jogja) dan nganjing-nganjingin aku, "Anjing kamu, filmmu beda lagi". "Ya gimana mas, sambil belajar," aku bilang gitu.

Aku belajar sesuatu, nonton sesuatu, terus dicoba. Kalau aku bikin sendiri bisa nggak ya. Makanya buatku originalitas itu nggak penting. Buatku authenticity yang penting. Bagaimana kemudian karya atau ide-ide yang bertebaran di luar itu bisa ditarik dan menjadi kamu. Autentik. Makanya kalau sidik jari authentification, tho?

Jadi saya percaya itu otomatis, nggak dibuat-buat. Jadi "tanda tangan" sutradara itu nggak dibuat-buat. Misalnya gini, saya yang masang angle dengan si A yang masang angle, beda. Itu udah otomatis. Jadi

nggak perlu, "Wah kalau film itu bukan saya tuh". Saya tuh, Talak 3 film saya. Mbok saya menyutradarainya dengan Mas Hanung, saya tetap percaya itu film saya. Itu hasil dari keputusan-keputusan saya. Bahwa ketika memutuskan ada Hanung Bramantyo yang menguji keputusan itu dan dia akhirnya membuat keputusan yang lain, kan munculnya karena ada keputusan saya.

Saya begitu. Jadi saya nggak kerdil melihat film itu harus saya, enggak. Buktinya film-film saya banyak yang nulisnya orang lain, tho? Coba perhatikan. Bahkan kadang idenya orang lain. Mencari Hilal idenya orang lain, Talak 3 juga dan buat saya no problem.

Karena saya percaya dari awal, film itu kolektif. Film itu bukan hasil pemikiran satu orang. Bukan pelukis. Memang dunia kita itu dunia kolektif, apalagi digital sekarang. Kita syutingnya di sini bisa yang ngerjain orang lain di sana.

Saya percaya fleksibilitas itu diperlukan. Kenapa? Pengetahuan itu yang harus dikejar. Kita nggak pernah tahu ujungnya ke mana. Yang begini buat saya nggak ada salahnya, terusin saja dulu. Kayak Mencari Hilal. Kalau misalnya waktu itu aku menolak, kira-kira filmnya tetap ada nggak? Tetap ada, itu kan bukan proyek sutradara. Bahwa filmnya jadinya seperti apa, itu berbeda. Nah, fleksibilitas itu diperlukan.

Banyak sutradara Indonesia berasal dari Yogyakarta. Hubungan keduanya tampak sangat mesra. Bisa diceritakan?

Jogja kan iklimnya seni ya. Kebudayaan itu, antara kontemporer dan tradisi masih ketemu. Kami punya dua kultur yang tidak dimiliki kota lain, barangkali. Satu, kultur penciptaan. Bagaimana kemudian seni dan kebudayaan punya seniman-seniman yang menciptakan sesuatu dan yang kedua, Jogja kan dikenal sebagai kota yang tagline-nya kota budaya dan kota pendidikan. Di wilayah pendidikan kita dididik menjadi kritis, tho? Maka Jogja punya dua iklim itu. Iklim mencipta dan iklim mengkritisi.

Ini yang bikin teman-teman di Jogja cara berpikirnya langsung dua. Dia bisa banget komentar dan menjelaskan secara runut, secara akademik karya-karya yang dibuat oleh dia. Saya ini disuruh jelasin teori dari setiap film bisa banget. Karya-karya aku ini maksudnya apa. Tapi begitu sampai publik kadang kala kan tidak diperlukan.

Karena kami bukan pameran yang menyuruh publik datang. Pameran dalam bentuk film itu kan menaruh film saja di publik. Mereka mungkin cuma butuh guide, yang sifatnya sinopsis, dan mungkin kalau lebih director's statement. Cuma sampai situ. Director's statement saja kebanyakan yang baca filmmaker. Publik udah nggak baca, tapi memang biasanya sampai situ saja.

Anda tidak sekolah film. S1-nya adalah 10 film pendek Anda. Bagaimana bagi generasi muda kini yang juga tidak sekolah, tapi pengen bikin film? Apa saran Anda?

Saat ini mungkin saya satu-satunya yang sudah lulus. Karena di generasiku sebenarnya banyak yang kayak saya. Mungkin begini, buatku yang paling penting jujur saja sama kebutuhanmu. Misalnya, membayangkan endingnya. Endingnya kamu pengen jadi apa?

Kalau dulu saya membayangkan, ketika saya membuat film itu kayak band-bandan, di mana saya sebagai pemain gitar membuat grup dengan musik yang alirannya itu. Misalnya begitulah. Grupku itu masih ada. Grup yang kalau bikin film orang-orangnya itu saja isinya, kayak band-bandan.

Tapi saya juga tahu sebagai pemain gitar ternyata saya di-hire band lain. "Eh bantuin dong bandku nggak ada pemain gitarnya nih." Ikut roadshow, segala macam. Konsekuensinya saya dibayar dong untuk roadshow itu. Dari roadshow saya hidup. Saya punya waktu lagi untuk menghidupi band saya. Ya gak?

Yang menarik, konsep band-bandan ini biasanya di musik kan. Nah saya itu di film kayak gitu. Jadi saya sama sekali nggak keberatan di-hire sebagai sutradara, oke ayo. Buat saya, saya sebagai pemain gitar. "Ini ada pemain gitar yang bagus nih, tapi saya major label, saya nggak bisa kerja sama bandmu." No problem.

Saya tahu, oh mungkin seleranya beda, tujuannya beda. "Saya ambil kamunya doang ya." No problem. Karena saya tahu kalau saya nggak mati, band saya tuh nggak mati. Tapi kalau saya mati, band ini nggak bisa disebut band lagi, karena sudah nggak ada Ismail Basbeth. Jadi buat saya fleksibel. Makanya orang ngomong, "Kok kerja sama Hanung sih?" Emang kenapa? Wong kita kan mau band-bandan. Yang penting masih di film. Tiba-tiba saya diajakin sinetron saja saya mau kok.

Kalau tiba-tiba nih, saya di-hire jadi peneliti untuk riset akademik wah itu goblok kalau saya ambil. Saya nggak punya background itu. Itu baru saya membuat-buat alasan hanya supaya saya dapat duitnya atau apa. Tapi kalau dunianya masih film, buatku... ini nih hidupku. Saya menikmatinya. Bekerja dengan banyak orang, dengan berbagai macam tujuan.

Buatku film itu film. Film bagus ya bagus. Ketika kita ngomong film mainstream, film independen, film arthouse, film eksperimental. Kata film yang disusun berbarengan dengan kata lain yang mendefinisikannya menjadi lebih spesial, itu dagangan. Tapi filmnya itu sendiri sebenarnya kan film.

Publiknya saja sangat fleksibel, kenapa filmmakernya enggak? Itu paradigma yang saya akui. Itu satu. Yang kedua, jangan takut sebagai sutradara disebut tidak punya karakter. Saya dari dulu selalu dibilang orang nggak punya karakter. Ya nggak apa-apa. Karakter itu memang nggak dibuat. Karakter itu kan tumbuh. Yang perlu kamu lakukan adalah habis bikin satu karya lalu kamu punya tanggung jawabnya.

Karyanya kelar, kamu bikin lagi. Nanti saat kamu mati orang bakal ngomong kamu sutradara yang kayak gimana. Prosesnya belum kelar ini. Jadi buatku nggak perlu takut. Nggak perlu sibuk mendefinisikan aku sutradara yang... nggak perlu. Kecuali kepentingan untuk dagang tadi, untuk membuat kategori. Kepentingan dagang sah-sah aja, wong ada pengetahuannya.

Jadi buatku fleksibilitas itu nomor satu. Mungkin di luar sana ada yang bilang, "Aku pengen jadi sutradara kayak si A ajalah, ya no problem. Maka langkahnya mungkin sedikit berbeda denganku. Tapi kan nggak apa-apa. Jangan kaku-kakulah.

 

Sumber Foto: Screen Daily

Tags: