Hancur Lebur Jualan Film, Apa yang Terjadi dengan Box Office Amerika Serikat?

By Marnala Eros, Sep 4, 2017

Hancur Lebur Jualan Film,  Apa yang Terjadi dengan Box Office Amerika Serikat?

Di Negeri Paman Sam, untuk pertama kali dalam 25 tahun tidak ada film yang dirilis di lebih dari 1.000 layar selama akhir pekan Labor Day atau Hari Kaum Pekerja, hari buruhnya orang Amerika yang jatuh pada Senin pertama bulan September. Di belahan dunia lain termasuk Indonesia, kita mengenal Hari Buruh yang jatuh pada 1 Mei.

Kenapa di AS jatuh pada hari Senin? Ditujukan agar para kelas pekerja benar-benar merasakan libur panjang, entah di rumah mengadakan bakar-bakaran/barbeque sembari menyaksikan balap mobil Nascar 500 dan pembukaan NFL atau menjadwalkan plesir ke luar kota. Kalau tidak, sebetulnya pergi menonton film ke bioskop adalah opsi menarik, kalau memang ada judul berkualitas. Sayangnya tidak.

Beberapa tahun terakhir studio besar mengurangi jumlah film yang dirilis pada libur panjang tersebut, karena statistik menunjukkan kalau publik lebih memilih pantai daripada bioskop. Tapi benar-benar absennya film baru bermutu dari seluruh studio merupakan kejutan terkini yang mengakhiri box office musim panas penuh kekecewaan, sekaligus ditenggarai menjadi penyebab anjloknya jualan film di akhir pekan Hari Kaum Pekerja.

Data yang tiba dari akhir Agustus saja menunjukkan kalau terjadi penurunan sebanyak 22% dari tahun silam, diperkirakan akhir pekan Hari Pekerja hanya mendaratkan $90juta-$100 juta (terendah sejak 1998 dengan $78.8 juta).

Tanda-tanda kehancuran box office di akhir pekan kemarin sudah muncul dari dua minggu lalu ketika satu-satunya film yang dirilis luas cuma The Hitman's Bodyguard yang dibintangi Ryan Reynolds dan Samuel L. Jackson serta mengantungi skor 39% di Rotten Tomatoes. Barulah seminggu kemarin industri bisnis merasakan box office terburuk dalam 16 tahun terakhir dengan total penjualan $69 juta. Angka memalukan untuk ukuran Hollywood. The Hitman's Bodyguard yang memuncaki tiga weekend berurutan - satu-satunya film yang meraih prestasi tersebut selama musim panas ini - tidak dapat menghadirkan kebanggaan bagi Lionsgate akibat sepinya kompetisi dan kecilnya angka penjualan. Padahal cuma film arahan Patrick Hughes yang mampu mencetak prestasi tiga pekan berurutan sejak Fate of the Furious, bahkan Guardians of the Galaxy Vol. 2 dan Wonder Woman pun tak sanggup.

Dua minggu terakhir cuma 8.5 juta tiket bioskop yang terjual di regional Amerika Utara (AS dan kanada) dari kombinasi populasi 363 juta kepala. Artinya? Cuma sekitar 2.3 persen masyarakat yang memilih pergi ke bioskop.

Kondisi ini semakin diperparah dengan studio yang lebih memilih menayangkan film-film klasik di bioskop, misalnya Sony yang kembali merilis Close Encounters of the Third Kind-nya Steven Spielberg guna merayakan ulang tahun ke-40, hadir di 900 layar. Adapun Marvel malah menggunakan libur panjang untuk coba-coba serial tv baru, Inhumans, di 380 layar IMAX. Keduanya cuma mengantungi masing-masing $2 juta per data Minggu (3/9).

Tulip Fever, film teranyar dari The Weinstein Company yang terus berganti tanggal rilis pun bernasib tragis. Ketika akhirnya tayang pada akhir pekan kemarin, film yang mendapat skor 11% Rotten Tomatoes dan dibintangi Alicia Vikander, Christoph Waltz, Zach Galifianakis, cuma meraih sekitar $1.25 juta dari 765 layar.

2017 mencatat angka penjualan box office musim panas terendah sejak 2007, di mana total angka tak dapat mencapai $4 miliar (tahun ini domestik hanya mengantungi $3.8 miliar), dan dengan $10.2 juta, The Hitman's Bodyguard lah raja akhir pekan Hari Kaum Pekerja 2017, sekaligus film paling banyak ditonton di AS selama 3 minggu terakhir. Apapun skenario terbaiknya, musim panas - atau kalau tidak Labor Day 2017 - tetaplah menjadi tahun yang pilu bagi Hollywood.

Industri hiburan paling meriah sedunia, sedang di mana tajimu?

Sumber: Business Insider, The Hollywood Reporter