Google vs Uber, Siapa yang Tertawa di Akhir?

By Marnala Eros, May 15, 2017

Google vs Uber, Siapa yang Tertawa di Akhir?

Kalau Anda rajin memerhatikan perkembangan dari pusat teknologi terbesar di belahan Amerika, Silicon Valley, bisa jadi telah mendengar "bola panas" di antara dua perahu yang tengah melaju kencang: Google dan Uber.

Ya, Google menuntut Uber karena aplikasi transportasi berbasis ekonomi berbagi itu diduga mencuri ide teknologi pengembangan mobil yang berkendara otomatis atau self-driving vehicles. Wah, curi mencuri ide kan dapat berbuntut panjang. Jadi, ada apa sebenarnya?

Pada Februari 2017 Waymo, perusahaan mobil yang berkendara tanpa kemudi kepunyaan Alphabet (parent company Google) menuntut Uber, mengklaim kalau salah satu pegawainya mencuri teknologi penting sesaat sebelum mendirikan perusahaannya sendiri.

Google telah mengembangkan teknologi self-driving selama setengah dekade ke belakang dan berencana memberi lisensinya kepada pengembang mobil lain melalui Waymo. Ada pun kemungkinan lainnya kalau Waymo sendiri yang akan membangun layanan berkendara otomatis dengan mobil yang berjalan sendiri yang nantinya dapat bersaing langsung dengan Uber.

Sementara itu Uber baru mengeksplorasi teknologi kendali otomatis empat tahun setelah Waymo, di mana mereka melihat potensi tersebut sebagai langkah logis dalam melindungi bisnisnya. Salah satu pengeluaran terbesar Uber memang berasal dari pembagian penghasilan antara perusahaan dengan sopir. Menyingkirkan sopir demi mobil yang berkendara sendiri merupakan peluang luar biasa besar bagi Uber untuk mendapat untung berlipat (dan kabar buruk bagi sopir). Jika ada yang bisa mengalahkan Uber melalui teknologi kendali otomatis ini, tentu muncul ancaman terhadap masa depan mereka, bukan?

Oleh karena itu Anda patut mengenal seseorang bernama Anthony Levandowski yang tidak ada hubungannya dengan pesepakbola subur asal Polandia dan bermain di klub Bayern Munchen bernama depan Robert. Levandowski merupakan pemimpin proyek mobil kendali otomatis Uber dan pernah menjadi bagian eksekutif Google di bidang serupa. Dia meninggalkan Google pada 2016, lantas mendirikan Otto, perusahaan berbasis teknologi yang memproduksi truk yang... betul, mampu berjalan tanpa harus dikendalikan. Tak lama kemudian, Otto dibeli oleh Uber.

Di mana Benang Merahnya?

Waymo, salah satu divisi perusahaan milik Alphabet, telah bekerjasama dengan Fiat Chrysler dalam mengembangkan teknologi yang akan berdampak positif terhadap kepadatan lalu lintas ini. Mereka menuduh Uber dan Otto mencuri teknologi lidar yang merupakan sensor dari mobil kendali otomatis yang membuat mereka dapat "melihat" dunia sembari berkendara sendiri. Singkatnya lidar adalah komponen vital dalam kendaraan yang berkendara sendiri.

Dalam tuntutan hukumnya, Waymo berujar kalau Levandowski mengunduh file sebesar 9,7 giga berisi 14 ribu informasi teknis dan desain mobil kendali otomatis ke laptopnya, kemudian memindahkan file tersebut ke perangkat penyimpanan eksternal. Di dalam file itu terdapat rencana untuk mematenkan sistem lidar milik Waymo.

Menurut Waymo seperti dikutip dari Business Insider, Levandowski meninggalkan Google pada Januari 2016, beberapa minggu usai mengunduh file. Enam bulan setelah mendirikan Otto dia menandatangani kontrak dengan Uber dan menjadi kepala pengembangan mobil kendali otomatis Uber.

Kata Waymo lagi, ada surat elektronik yang datang secara tidak sengaja dari salah satu penyalur komponen lidar bagi Uber/Otto di pengujung 2016. Desain lidar di email "memiliki kemiripan mencolok dengan desain unik lidar. Hal tersebut yang membuat Waymo melakukan investigasi terhadap minggu-minggu terakhir Levandowski di Google, kemudian menemukan bukti kalau dia mengunduh file ke penyimpanan eksternal miliknya."

Sebagai tambahan kepada gugatan hukum yang dilayangkan di bulan Februari, pada Maret lalu Waymo juga meminta hakim untuk melarang pengerjaan dan uji coba proyek mobil kendali otomatis Uber yang diduga menggunakan teknologi Waymo (termasuk sistem lidar) hingga kasus selesai.

Sedangkan dari sisi Uber sendiri, dari transkrip pengadilan yang diterima Business Insider, pengacara Levandowski menganjurkannya guna mengajukan amandemen kelima sebagai hak berwarga negara agar tidak melibatkan dirinya ke dalam proses hukum. Kendati secara tidak langsung dirinya yang menjadi pusat masalah, nama Levandowski sendiri tidak disebut dalam gugatan awal antara kedua perusahaan raksasa ini. Namun pengacaranya bertemu dengan Hakim William Alsup di akhir Maret dan salah satu pengacaranya berkata kalau Levandowski dapat berubah pikiran selama kasus ini berlangsung serta mereka hanya melindungi hak konstitusinya.

Dalam laporan terpisah yang dikemukakan Jalopnik, Google juga mengajukan gugatan arbitrase yang tertunda kepada Levandowski, yang diduga merayu pengawai Google untuk ikut bersamanya ke perusahaan transportasi otonom dan berinvestasi di kompetitor langsung di mana hal itu bertentangan langsung dengan kontrak kerja Google.

Gugatan arbitrase Google menuduh Levandowski berinvestasi dalam perusahaan bernama Tyto Lidar, yang dibeli Otto tak lama usai dia meluncurkan start-up truk tersebut, pada 2012. Menurut jejak yang ditelusuri Jalopnik, Levandowski pernah menjadi salah satu pemimpin Tyto; kerabat dekatnya Ognen Stojanovski, merupakan manajer Tyto sebelum dibeli Otto dan keduanya pernah berada dalam tim yang sama di kompetisi di bidang kendaraan otonomi DARPA Grand Challenge 2005. Di suatu titik Google pernah menimbang untuk membeli Tyto, dan bahkan meminta Levandowski guna mengintip peluang membeli perusahaan tersebut.

Perkembangan Kasus

Pada bulan April Uber dengan percaya diri memberikan respon publik pertamanya atas kasus ini dan mengklaim kalau klaim Waymo tidak berdasar, juga bahwa Levandowski tidak menggunakan file apapun dalam kerjasamanya dengan Otto maupun Uber. Menurut Bloomberg, Levandowski berkata kepada staff-nya kalau teknologi lidar Uber "bersih" dan dia mengunduh file tersebut ke komputernya agar dia bisa bekerja dari rumah.

Maju ke Mei, Google menuduh Uber membuat skema licik dengan Levandowski dengan tujuan mencuri teknologi krusial dalam pengembangan mobil kendali otomatis. Perusahaan truk Tyto yang dibeli Uber merupakan bagian dari tipu daya Uber dan Levandowski. Google menunjuk fakta bahwa Levandowski menerima $250 juta berupa saham Uber usai dia meninggalkan Google, dan beberapa bulan sebelum Otto diakuisisi Uber.

Pada perkembangan terakhir dari sidang yang berlangsung pekan lalu seperti dilansir Wired, Hakim Pengadilan Negeri AS, William Alsup, mengeluarkan dua keputusan kunci. Yang pertama, Alsup menolak usaha Uber yang ingin menyelesaikan kasus ini di arbitrase, sehingga proses peradilan akan dipentaskan di depan umum. Waymo bakal senang. "Kami menyambut keputusan pengadilan dan menunggu pertanggungjawaban Uber di pengadilan atas kesalahannya," ujar juru bicara Waymo.

Yang kedua dan bakal menyulitkan Levandowski, Alsup merujuk kasus ini ke Kejaksaan AS "untuk investigasi terhadap kemungkinan pencurian rahasia dagang berdasarkan laporan berisi bukti-bukti sejauh ini." Alsup berpikir bahwa sebuah tindak kejahatan mungkin terjadi di sini dan FBI semestinya dapat ikut melihat. Hal tersebut menimbulkan kemungkinan hukuman penjara bagi Levandowski.

Kata Peter Toren, pengacara hak milik intelektual dan mantan pengacara pengadilan, rujukan tersebut terbilang "cukup langka." "Bagi seorang hakim untuk melakukan itu, dia mestinya percaya ada banyak asap, kalau tidak api, atas pelanggaran pidana."

Alsup sendiri terkesan dengan bukti-bukti yang dibeberkan Waymo. "Anda memiliki catatan sangat kuat yang pernah saya lihat untuk seseorang yang melakukan hal yang sangat buruk," ujar Alsup dalam pemeriksaan pada awal Mei.

Sedangkan Uber memang belum tentu bersalah dan pengacara Waymo masih harus membuktikan bahwa bagaimana properti intelektual curian masuk ke teknologi Uber, namun bukti-bukti tersebut sudah cukup guna meyakinkan Alsup untuk membuat rujukan ke kantor kejaksaan AS di San Francisco. "Jika Anda memperoleh rujukan dan saya mendapat satu atau dua selama karier saya, pastinya Anda menganggap itu hal yang sangat serius," kata Toren.

Jika pengadilan melanjutkan penyelidikan kriminal untuk spionase ekonomi, hukumannya dapat berarti waktu penjara panjang bagi Levandowski. "Jika kita bicara nilai puluhan juta dolar, kita bicara mengenai potensi hukuman penjara yang sangat, sangat panjang," tukas Toren. Angka-angka itu bukan tidak berdasar. Laporan Boston Global Consulting baru-baru ini memperkirakan pasar kendaraan otomatis dapat bernilai puluhan miliar dolar pada 2030 mendatang. Tentu saja setiap kasus berbeda, namun pada kasus beberapa tahun lalu di mana seseorang terbukti mencuri rahasia dagang senilai $20 juta dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Perang Dua Raksasa

Dengan keterlibatan jaksa federal, kemungkinan besar Uber akan membatasi campur tangan Levandowski dalam divisi Research & Development. Artinya ada kemunduran dalam rencana pengembangan, juga citra mereka. Kegagalan dalam mengembangkan teknologi kendara otomatis dapat mengancam eksistensi Uber untuk jangka panjang. Siapapun yang berhasil tiba duluan di garis akhir bisa menawarkan layanan tanpa memenuhi kebutuhan membayar biaya sopir.

"Apa yang akan terjadi jika kami bukan bagian dari masa depan itu? Jika kami bukan bagian dari otomatisasi tersebut? Maka masa depan telah mendahului kami," kata CEO Uber, Travis Kalanick, kepada Business Insider tahun silam. Namun melaju ke depan akan sulit bila jaksa federal keluar-masuk kantor Anda.

Satu lagi kepingan puzzle yang belum tersusun, entah akan termasuk atau tidak. Alphabet sebagai parent company Google berinvestasi besar di Uber. Dalam hubungan unik yang ditelusuri AllThingsD, kesuksesan Uber turut menguntungkan Alphabet secara finansial. Pada 2013 Google Ventures menginvestasikan $258 juta di Uber. Pada saat itu Uber bernilai $3,5 miliar yang memberi GV 7% saham di Uber. Kini aplikasi transportasi tersebut bernilai $69 miliar. Eksekutif Alphabet, David Drummond, juga pernah duduk di jajaran direksi Uber, namun keluar pada Agustus 2016 ketika akhirnya jelas kalau kedua perusahaan bersaing di kolam yang sama.

Kasus ini merupakan yang terpanas yang terjadi di Silicon Valley selama beberapa tahun ke belakang dan sedang ramai dibicarakan. Kita pun tidak akan mendapat keputusan dalam waktu cepat, namun pastilah satu per satu kepingan akan terbuka perlahan. Waymo tidak akan bersikap kooperatif dan Uber akan terus bertahan. Semoga saja, pada akhirnya kita sebagai penonton dan konsumer dapat diuntungkan dengan pertempuran di antara mereka. Siapa yang tidak mau menikmati teknologi mobil yang dapat berjalan sendiri, coba? Apalagi jika dapat mengatasi kemacetan lalu lintas yang sudah semakin tak terkendali di penjuru dunia. Walaupun kemungkinan terjadinya tidak dalam waktu dekat, namun inilah masa depan yang terdekat dengan kita sekarang.

Mari bersama-sama menunggu ke mana kasus ini akan berakhir. Untuk sementara, cerita ini masih bersambung.