Format & Rasio untuk Video YouTube

By Marnala Eros, Mar 17, 2016

Format & Rasio untuk Video YouTube

Dibanding saluran televisi, jumlah penonton YouTube jauh lebih banyak, hingga menjadikannya sebagai tempat paling tepat untuk mempublikasikan video. Seperti situs video-sharing daring lainnya, YouTube juga menyarankan agar video yang akan diunggah menggunakan video codec H.264 untuk mendapatkan hasil terbaik. YouTube telah menjelaskan di halaman support-nya panduan untuk menyiapkan video yang akan diunggah, meliputi bitrates, codec, resolusi dan suara.

Mengatur Kualitas Video Berdasarkan Resolusi dan Frame Rate

Mengikuti perkembangan jenis televisi yang sekarang umumnya menggunakan layar datar dengan bentuk memanjang atau widescreen, maka YouTube pun mendukung dan menyarankan ukuran atau resolusi video dengan bentuk widescreen atau aspect ratio 16:9, agar video yang diunggah bisa diputar dengan tampilan yang sempurna, seperti gambar di bawah ini:

Sementara untuk televisi tabung yang berbentuk kotak, aspect ratio yang digunakan adalah 4:3. Bila kita mengupload video menggunakan 4:3, maka YouTube akan menambahkan kotak hitam di bagian sampingnya, seperti gambar di bawah ini:

Ukuran atau resolusi yang disarankan untuk diupload ke YouTube agar bisa ditampilkan dengan sempurna sebaiknya mengikuti panduan resolusi video yang telah diberikan oleh YouTube seperti berikut ini:

2160p: 3840x2160

1440p: 2560x1440

1080p: 1920x1080

720p: 1280x720

480p: 854x480

360p: 640x360

240p: 426x240

Untuk frame rate, video yang akan diunggah disarankan sama dengan jumlah frame rate saat video itu dibuat. Frame rate atau frames per second, adalah jumlah frame yang terdapat dalam video dalam durasi satu detik. Beberapa frame rate yang umum digunakan adalah 24, 25, 30, 48, 50 dan 60.

Mengatur Kualitas Video Berdasarkan Bitrate

Semakin besar resolusi sebuah video maka otomatis bidang gambarnya pun semakin lebar. Namun konsekuensinya adalah akan menyebabkan ukuran file video tersebut semakin besar. Berkaitan dengan proses pemutaran video yang ada di YouTube tak lepas dari koneksi internet, maka untuk mengatur kualitas gambar pada video tersebut harus mempertimbangkan kecepatan koneksi internet yang kita miliki. Semakin cepat koneksi internet, maka proses transfer video semakin mulus, hingga video tersebut bisa diputar tanpa tersendat. Jadi kita bisa mengatur konversi video tersebut dengan file output yang lebih besar agar kualitas video tersebut memiliki kualitas gambar yang bagus. Pengaturan kualitas gambar tersebut menggunakan bitrate, atau besar data sebuah file video, audio atau integrasi audio dan video dalam satu detik.

Sementara apabila mempertimbangkan koneksi internet yang masih lambat, maka video dikonversi dengan bitrate rendah agar menghasilkan ukuran file yang kecil tapi kualitas gambar menurun.

Untuk melakukan proses kenversi video digunakan codec (compressor-decompressor) atau metode yang digunakan untuk mengompres file video. Codec bukanlah jenis file. Standar codec yang banyak digunakan secara luas dan juga disarankan oleh YouTube adalah MPEG-4 AVC (Advanced Video Coding) atau juga dikenal sebagai teknologi kompresi H.264.

MPEG-4 AVC atau H.264 mampu memberi kualitas yang sama baiknya seperti MPEG-2 dengan bitrate yang jauh lebih kecil dari MPEG-2. Efisiensi tinggi ini didapat berkat teknologi Scalable Video Coding. Dengan bitrate yang kecil berarti file size-nya juga menjadi kecil, hingga sebuah file video yang dibuat memakai MPEG-4 AVC hanya memiliki file size seperempat dari video yang dibuat memakai MPEG-2.

Besaran bitrate yang disarankan oleh YouTube untuk video yang akan di-upload adalah seperti tertera dibawah ini:

360p: 1 Mbps

480p: 2.5 Mbps

720p: 5 Mbps

1080p: 8 Mbps

1440p (2k): 16 Mbps

2160p (4k): 35-45 Mbps

Mengonversi Video Menggunakan Adobe Media Encoder

Untuk memudahkan proses ekspor video yang siap untuk diunggah ke YouTube, aplikasi penyunting video semacam Adobe Premiere sudah menyediakan preset yang disesesuaikan dengan kebutuhan. Misal untuk sebuah video berdurasi 30 detik dengan resolusi 1280p x 720p, kita tinggal mengekspor video tersebut menggunakan preset yang telah disediakan. Setelah kita memilih format H.264, maka kita bisa memilih preset YouTube 720p, maka Adobe Video Encoder yang akan memproses rendering tersebut secara otomatis akan memilih besaran bitrate yang direkomendasikan, yaitu 16, yang berarti 16 Mbps, dan hasil output video berdurasi 30 detik tersebut akan sebesar kurang lebih 58 MB.

Bila ukuran file tersebut terlalu besar, bisa dicoba menurunkan bitratenya, misalnya 5 Mbps, maka ukuran file yang dihasilkan akan sebesar sekitar 19MB. Namun harus dipastikan kualitas gambar video tersebut harus tetap bagus, jangan sampai demi mencapai ukuran file yang sekecil mungkin mengorbankan kualitas gambar yang mengganggu kenyamananan penonton.

Untuk Audio, preset tersebut juga sudah mengatur secara otomatis sesuai dengan yang direkomendasikan oleh YouTube, yaitu audio codec AAC-LC. Stereo, sample rate 48khz.

 

Referensi:

https://support.google.com/youtube/answer/1722171?hl=en

https://m.facebook.com/notes/tombolijo/yang-harus-diketahui-oleh-editor-video-file-dan-codec-apa-bedanya/10150692270346620/

https://gaptek28.wordpress.com/2008/03/26/mengenal-kompresi-video-mpeg-4-avc/

https://en.wikipedia.org/wiki/Frame_rate

 

Sumber Foto: Tubefilter

Tags: