Fakta-fakta Pahit Tentang Sinema Indonesia

By Raina Unzhurna, Apr 1, 2016

Fakta-fakta Pahit Tentang Sinema Indonesia

Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bagi kebanyakan pembuat film atau penulis naskah di Indonesia adalah merasa resah di minggu pertama filmnya tayang. Para produser dan investor bisa jadi lebih parah lagi. Jakarta hujan lebat di satu akhir pekan mampu menurunkan film itu di hari Senin.  Memang kelam sekali pasar film di Indonesia.

Mengapa Anda tidak memilih film nasional untuk ditonton pada akhir minggu ini? Dari sisi penonton mungkin Anda sudah bisa menjawab mengapa alasannya. Yang paling sering terjadi adalah karena ada tontonan lain yang lebih menarik, atau film Indonesia ceritanya tidak masuk dengan selera anda, atau Anda memiliki jawaban seperti filmnya sudah keburu turun.

Dari sisi artistik banyak sutradara dan penulis yang berhasil di Indonesia. Karya-karya mereka berkibar di festival-festival nasional maupun internasional. Di tahun kemarin misalnya, ada Joko Anwar dengan A Copy of My Mind. Tahun sebelumnya ada Lovely Man oleh Teddy Soeriaatmadja. Bakat, potensi dan kemampuan kreatif dari filmmaker Indonesia sudah tak bisa disangkal.

Ada beberapa faktor yang menentukan berhasil atau gagalnya sebuah film di Indonesia.              

1. Jumlah Layar Bioskop yang Terbatas

Dengan jumlah kurang lebih 1.000 layar di jaringan bioskop nasional, sebuah film nasional harus berkompetisi dengan film asing dan film nasional lainnya. 

2. Masa Tayang yang Pendek

Sebanyak 119 film nasional dan kurang lebih 200 film impor tayang di tahun 2015. Lebih dari 2 film nasional tayang pada setiap minggunya. Dengan jumlah layar yang terbatas, masa tayang di bioskop nasional sangatlah pendek. Penonton rata-rata hanya memiliki waktu kurang dari tiga minggu sebelum film turun dari peredaran bioskop.

3. Menurunnya Biaya Produksi

Rendahnya kemungkinan film untuk berhasil di pasar, mendesak produser-produser film Indonesia untuk lebih menekan biaya produksi untuk meminimalisir resiko yang mereka investasikan. Faktor ini mutlak mengurangi kualitas dari film itu sendiri. 

4. Kurang Berkembangnya Ide-ide Baru

Meminimalisasi resiko juga mempengaruhi keinginan para produser untuk bereksperimen dengan konten atau ide-ide baru. Oleh karena itu,  ide-ide kreatif baru dari pembuat film sulit untuk diterima oleh produser.

5. Daya Serap Terbatas dari Industri Televisi

Industri televisi sebagai pasar terbesar kedua bagi film nasional juga tersekat oleh struktur yang mengikat. Tambah persyaratan, tingginya tingkat pembajakan dan kepentingan sensor mengurangi kemampuan saluran televisi Indonesia untuk menyerap film nasional. 

6. Maraknya Pembajakan DVD

Industri DVD untuk film nasional sangat tidak berarti dikarenakan maraknya pembajakan film di Indonesia. Dimana Anda dapat membeli DVD original film Indonesia? Masih bukakah toko itu? Apakah Anda menemukan DVD original film Indonesia di toko yang menjual DVD bajakan? Pasar DVD di Indonesia adalah sebuah ironi. 

Mengapa, masih banyak juga yang memproduksi film di Indonesia walau, risiko begitu tinggi?

Jawabannya karena nilai investasi kebanyakan dari film yang tayang pun sangat rendah. Banyak dari filmmaker sudah mengikuti kenyataan industri dan pasar. Produser menyeimbangkan film produksi mereka dengan risiko. Di satu sisi filmmaker harus bertahan hidup.

Perspektif Baru

Pada tahun ini Netflix mulai merambah ke Indonesia dan YouTube sudah menjadi tontonan sehari-hari bagi masyarakat kota besar. Teknologi sudah menuntun pasar untuk bergerak menuju digital media. Penonton akan semakin mengerti dan tidak akan menolak perkembangan teknologi yang berguna buat mereka. Apakah penonton yang sama bisa kembali ke handphone biasa dari smartphone mereka? Tentu tidak. 

Bagaimana perfilman Indonesia bertumbuh dalam digital media? Tidak ada masa dan jam tayang yang ditentukan oleh bioskop atau saluran televisi. Tidak ada sensor yang mengikat, tidak ada topik yang terlalu tabu untuk dibicarakan, dan tidak ada cerita yang terlalu art-house untuk luasnya pasar digital. 

Bayangkan di masa yang tidak terlalu jauh dari sekarang, sebuah film nasional karena terbatasnya jumlah layar hanya ditayangkan di 20 teater di Indonesia tetapi tayang perdana level dunia di Netflix pada hari yang sama. Bayangkan sebuah film dokumenter Indonesia ditonton dan diproduksi untuk konsumsi dunia. Bayangkan filmmaker Indonesia tidak harus mengikuti pakem Industri yang didikte oleh rating TV, yang tidak pernah jelas bagaimana cara menentukannya. Bayangkan Anda bisa menonton film Indonesia di Netflix secara legal, karena pada minggu film itu diputar anda memilih untuk menonton The Avengers.

Era itu sudah di ambang mata.

"There will be big movies on a big screen, and it will cost them a lot of money. Everything else will be on a small screen. It's almost that way now. 'Lincoln' and 'Red Tails' barely got into theaters. You're talking about Steven Spielberg and George Lucas can't get their movies into theaters. Both see quirky or more personal content migrating to streaming video-on-demand, where niche audiences can be aggregated. What used to be the movie business, in which I include television and movies  will be internet television," kata George Lucas.

 

Referensi:

http://variety.com/2013/digital/news/lucas-spielberg-on-future-of-entertainment-1200496241/

http://www.thejakartapost.com/news/2015/07/26/indonesia-film-industry-so-many-films-such-small-audiences.html

 

Sumber Foto: Jakartayuk

Tags: