Fakta-fakta Menarik Seputar Istirahatlah Kata-Kata

By Marnala Eros, Jan 24, 2017

Fakta-fakta Menarik Seputar Istirahatlah Kata-Kata
"Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tahi!" teriak Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) di pinggir Sungai Kapuas, tatkala bersenda gurau, ngobrol ngalor-ngidul bersama dua orang teman yang bisa dipercaya semasa pelariannya, Thomas (Dhafi Yunan) dan Martin Siregar (Eduwart Boang Manalu). Momen tersebut merupakan suasana paling cair dalam Istirahatlah Kata-Kata, biopik puitis yang digelayuti kebosanan, sunyi, sekaligus tegang di tengah salah satu kondisi paling mencekam yang pernah dialami negeri ini.
 
Istirahatlah Kata-Kata merupakan film panjang kedua dari sutradara asal Yogyakarta, Yosep Anggi Noen. Sebelumnya dia membuat Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2013) yang serupa dengan Solo, Solitude (judul dalam bahasa Inggris), turut menampilkan hamparan ujian kehidupan sebuah hubungan yang terpisahkan jarak. Bedanya yang satu murni fiksi, sedangkan film terbaru Anggi mengisahkan kenyataan pahit yang dapat terjadi ke seluruh kita sebagai warga negara: hilang akibat berbeda pandangan politik.
 
Berbeda dengan film biografi Indonesia kebanyakan yang sering membahas riwayat hidup tokoh berpengaruh dalam buku sejarah atau punya banyak pengikut, Istirahatlah Kata-Kata menggambarkan sekeping masa pengasingan Wiji Thukul sewaktu dirinya ditetapkan sebagai buronan pada Juli 1996. Wiji yang bergabung dengan organisasi sayap Partai Rakyat Demokratik (PRD) dituduh menyulut kerusuhan di beberapa titik oleh pemerintah Orde Baru. Dia dicari oleh intelijen dan polisi seperti yang terlihat di awal film. Tak ada tempat yang benar-benar aman, terlebih di Jawa. Wiji pun kabur ke Kalimantan, mendekam di Pontianak selama 8 bulan, membuat identitas baru, mencoba berkarya seperti sedia kala tapi tak bisa. Sosok kurus tersebut seolah kehilangan dirinya, namun di situ pulalah dia merangkai kembali siapa dia sebenarnya.
 
Istrinya, Sipon (Marissa Anita) ialah wajah kesedihan dan kerinduan mendalam dalam film ini, juga di dunia nyata. Betapa keinginannya untuk bertemu bapak dari anak-anaknya belum juga terlaksana hingga film dan tulisan ini selesai. Tekanan datang dari segala penjuru arah: pemerintah, pihak berwajib, hingga tetangga sendiri. Pada suatu waktu Wiji nekat pulang ke rumah untuk menemui keluarganya, namun kegelisahan Sipon semakin berlipat ganda. Di saat bersamaan Wiji memantapkan hati untuk melawan penguasa, dan walaupun sepanjang film tidak ada gambar demonstrasi maupun oknum penting Orba, kita tahu bahwa penderitaan akibat dihantui status buronan begitu mengerikan, dan itu diamini Wiji sendiri.
 
Sudah sepantasnya Anda mensyukuri kebebasan berekspresi dan berpendapat dengan menonton film ini. Wiji dan aktivis lain yang hilang turut memungkinkan terjadinya keadaan macam sekarang yang terhitung damai dan mudah. Berbagai deskripsi yang telah disebutkan di atas hanya sekelumit dari tatanan kerja yang indah dan mulia. Masih banyak hal menarik yang bisa Anda dapatkan saat dan sesudah menyaksikannya. Sebelumnya, izinkan Yoodeo memaparkan sejumlah fakta seputar Istirahatlah Kata-Kata.

1. Jokowi Pengagum Puisi Wiji

Pada April 2014, Jokowi pernah bilang ke Wahyu Susilo yang merupakan adik Wiji Thukul kalau salah satu puisi Wiji favoritnya adalah Peringatan. "Saya berharap Presiden Jokowi bisa menonton film ini karena saya tahu Jokowi adalah pengagum karya bapak saya," ujar putri Wiji, Fitri Nganthi Wani saat diwawancarai Tempo awal bulan ini. Belum ada pemberitaan tentang Jokowi menonton Istirahatlah Kata-Kata, sementara Ahok saja sudah. Masa kampanye menentukan sikap, eh?

2. Sipon Menangis Ketika Menonton Istirahatlah Kata-Kata

Reaksi wajar dari yang ditinggal hilang. Dyah Sujirah alias Sipon tak dapat menahan lara saat menyaksikan biopik suaminya di bioskop Solo pada pemutaran perdana Kamis (19/1) kemarin. Sipon mengaku kalau, "Puisi-puisi yang dilagukan dalam film ini lebih menguatkan saya," dan mengharapkan Istirahatlah Kata-Kata supaya "menjadi pelajaran berharga buat kita."

3. Layar Terus Bertambah

Istirahatlah Kata-Kata bukan film dengan medium yang ringan, sehingga pihak bioskop awalnya menayangkan secara terbatas hanya di 19 layar terpilih. Namun seiring animo yang tinggi, pengelola bioskop lalu menambah jumlah layar dan kota penayangan. Lumayan, sampai hari ini data yang masuk ke situs filmindonesia.or.id menyebutkan bahwa film Wiji Thukul telah menjual 22.897 tiket. Semoga semakin bertambah.

4. Gunawan Maryanto Pakai Gigi Palsu

Penulis dan sutradara teater Gunawan Maryanto tampil dengan sangat meyakinkan sebagai Wiji Thukul, baik secara rupa dan gestur. Salah satu sebabnya tak lain adalah memakai gigi palsu guna mendekati ciri Wiji yang tonggos. "Ternyata gigi palsu itu membantu. Tanpa mencadel-cadelkan diri, sudah otomatis cadel," komentar Gunawan tentang kekhasan Wiji tersebut.

5. Wiji Tjukul Ada dan Tetap Berlipat Ganda

Sebuah seruan yang dikumandangkan Gunawan Maryanto saat menerima Golden Hanoman Award di JAFF di mana Istirahatlah Kata-Kata dianugerahi Film Asia Terbaik (sutradara Anggi Noen berhalangan hadir). Kendati tak ada yang tahu rimbanya kini, Wiji selalu hidup di sanubari banyak orang. Yakin dan percayalah.