Dylan Cole: Sang Pelukis Film-film Box Office

By Marnala Eros, Apr 6, 2016

Dylan Cole: Sang Pelukis Film-film Box Office

Matte painting adalah lukisan berupa pemandangan, set, landscape, atau benda-benda lain yang dibuat sebagai latar belakang sebuah film. Lukisan ini dibuat untuk menciptakan sebuah lingkungan fiksi, fantasi, alias tidak ada di dunia nyata.

Sekarang ini matte painting lebih banyak dibuat menggunakan komputer, baik merupakan kombinasi foto yang diedit atau pun berupa hand painting. Banyak film layar lebar yang menggunakan matte painting sebagai bagian dari visual effect film tersebut. Contohnya film trilogi Lord of The Ring yang banyak menyuguhkan latar belakang pemandangan yang luar biasa, beberapa diantaranya dibuat menggunakan teknik matte painting.

Salah satu matte painter yang sangat dikenal di industri film dunia adalah Dylan Cole. Selain karyanya sudah banyak menghiasi film-film box office dunia, ia juga membuat matte painting untuk video game, film iklan dan film untuk televisi. Beberapa judul film yang pernah melibatkan karya Dylan Cole adalah Time Machine, Daredevil, The Lord of the Rings: The Return of the King, The Chronicles of Riddick, The Ring 2, The Aviator, I, Robot, Van Helsing, Sky Captain and the World of Tomorrow, The Lion, The Witch, and the Wardrobe serta Superman Returns

Berikut beberapa hal menarik mengenai Dylan Cole:

Seorang Penggemar Star Wars dan Superman 

Dylan Cole merupakan lulusan UCLA dan pernah bekerja di beberapa studio seperti Illusion Arts, Rhythm & Hues dan Weta Digital.Sewaktu kecil Dylan mengaku bahwa gambarnya tidak terlalu bagus. Tapi ia menikmati setiap membuat gambar. Gambar yang paling disukainya adalah adegan perang antariksa yang dilihatnya di film Star Wars atau Superman. Saat kecil ia pun sering membuat kartu ucapan selamat ulang tahun untuk kedua orangtuanya. Banyak kartu yang diberikan untuk ibunya menampilkan gambar Star Destroyer yang dibuatnya.

Awalnya Ingin Menjadi Komikus

Dylan mulai tertarik untuk membuat gambar saat sekitar berumur sepuluh tahun setelah ia mulai membaca beberapa komik. Saat itu ia menyadari bahwa hasil karyanya sedikit lebih bagus bila dibanding anak-anak lainnya. Sejak saat itulah ia mulai tertarik untuk menjadi pembuat komik profesional hingga bisa berjam-jam lamanya duduk di dalam kamarnya menggambar karakter-karakter rekaannya. 

Kegemarannya sangat didukung oleh kedua orang tuanya hingga mereka selalu mengajaknya ke acara San Diego Comic Con yang diadakan setiap tahun. 

Dengan dukungan seperti itu maka memberikan banyak keuntungan bagi kegiatan berkesenian yang dilakukannya.

Karyanya Terpengaruh Salvador Dali

Saat berusia 15 tahun, Dylan mulai bereksperimen dengan acrylic. Setelah lulus sekolah menengah ia masuk kuliah di UCLA dengan jurusan seni murni. Kemampuan melukisnya mengalami banyak kemajuan dan ia memutuskan untuk fokus pada hal tersebut. "Saya menyadari bahwa saya ingin melukis seumur hidup saya," ujarnya.

UCLA adalah sebuah institusi pendidikan yang kontemporer dan berwawasan seni, yang berarti bahwa dalam memahami sebuah pekerjaan, mereka lebih tertarik untuk menanyakan 'mengapa', bukan 'bagaimana'. Dengan sistem pendidikan seperti itu, Dylan merasa pengetahuannya tentang melukis lebih banyak dari diri sendiri. Selama masa kuliah ia lebih banyak membuat karya surealis yang banyak dipengaruhi oleh pelukis seperti Salvador Dali dan seniman-seniman sci-fi lainnya.

Awal Kecintaannya Pada Matte Painting Karena Film Star Wars

Awalnya ia ingin menjadi ilustrator pembuat sampul buku dan membuat karya-karya seperti Michael Whelan, Jim Burns dan James Gurney, Tapi keinginan tersebut berubah saat ia mendapat buku Art of Star Wars dan melihat matte painting untuk pertama kalinya. Baginya itu adalah sebuah karya seni science-fiction yang sangat indah dan realistik yang diaplikasikan dalam film layar lebar dan bisa dinikmati oleh penikmat film dari seluruh dunia. Sungguh sebuah media yang sempurna untuk berkarya bagi Dylan.

Dalam membuat gambar ia lebih tertarik pada obyek pemandangan dari pada karakter, dan ia ingin membuatnya serealistik mungkin. Seniman seperti Michael Pangrazio dan Chris Evans kemudian menjadi panutannya. Merasa jatuh cinta dengan matte painting, Dylan kemudian mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang hal tersebut, dan ia pun akhirnya mengetahui bahwa karya-karya seperti itu dibuat dengan media digital. 

Menggambar Digital Karena Terpaksa 

Pada awalnya ia merasa kecewa karena ia sangat menyukai seni lukis tradisional. Banyak temannya yang membuat lukisan digital, tapi Dylan tak mau ikut-ikutan seperti itu. Baginya melukis menggunakan komputer adalah perbuatan curang, dan membuat mereka tidak seperti seniman sungguhan. Ungkapan-ungkapan itu justru berbalik menghampiri dirinya ketika sekarang ia menjadi artist digital painting. Ia mulai menggeluti digital art saat ia masih menjadi mahasiswa di UCLA dan mendapat kesempatan magang di Industrial Light & Magic (ILM). 

Meskipun ia diterima magang karena karya lukisnya yang dibuat secara tradisional, tapi di ILM ia justru diharuskan membuat lukisan secara digital. Saat itu sekitar tahun 2000, dimana Dylan menggunakan komputer hanya untuk membuat tugas menulis dari kampus. Karena ia membutuhkan komputer untuk membuat gambar digital, maka ia pun membeli PowerMac G4 dan monitor Apple dengan layar yang lebar menggunakan uang hasil tabungannya.

Belajar Photoshop Di ILM

Di ILM Dylan satu ruangan dengan matte painter kelas dunia, dan ia meminta mereka untuk mengajarinya teknik dasar tentang Photoshop. Untungnya para seniman digital itu sangat toleran dan tak keberatan mengajarinya hingga ia akhirnya bisa menguasai teknik dasar Photoshop dengan baik. 

Bagi Dylan, dari pada membuat banyak gambar berbeda lebih baik membuat satu atau dua buah gambar tapi terus memperbaiki kualitasnya dengan menerapkan teknik-teknik baru yang dipelajarinya. Masa-masa akhirnya di UCLA dihabiskannya dengan mengurung diri di dalam kamar untuk menciptakan sebuah karya seperti yang dilihatnya di ILM.

Kemampuannya membuat matte painting mengalami peningkatan karena ia dikelilingi oleh matte painter terbaik di dunia yang berkumpul di ILM. Dylan tak terlalu tertarik untuk bergabung di komunitas online hingga ia tak pernah melihat karya-karya matte painter lain melalui internet. Selain itu tak ada teman kuliahnya yang menggeluti matte painting sehingga ia tak memiliki rekan untuk membandingkan karya-karyanya.

Di satu sisi ia merasa itu sebagai hal yang merugikan, tapi di sisi lain hal itu juga membantunya karena ia jadi lebih fokus pada matte painter yang ada di ILM saja. Semakin menguasai digital painting, Dylan makin terbiasa dan merasa nyaman membuat sketsa menggunakan Photoshop sehingga aplikasi tersebut menjadi alat kerjanya setiap hari. 

Jadi Pengangguran Karena Peristiwa 9/11

Karier profesional pertamanya dimulai di Illusion Arts setelah ia lulus kuliah. Awalnya ia mengirim belasan portofolio ke banyak studio VFX. Dua hari setelah mengirimkan contoh gambarnya, ia mendapat panggilan dari Syd Dutton dari Illusion Arts. Setelah diterima kerja di sana, tugas pertamanya adalah membuat matte painting untuk film Time Machine. Di Illusion Arts, Dylan mendapat banyak lagi pengetahuan baru yang didapatnya dari Syd Dutton. 

Namun keberadaannya di Illusion Arts tak lama karena kemudian terjadi peristiwa 11 September. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan Dylan menjadi pengangguran selama lima bulan lamanya, lalu kerja serabutan mengerjakan iklan atau video klip. 

Keadaan membaik saat ia bergabung dengan tim art A Sound of Thunder, hingga kemudian ia terlibat dalam film Daredevil dan Lord of the Rings: Return of the King

Dylan menggunakan Photoshop sebagai aplikasi utamanya, dan Cinema 4D untuk membuat 3D nya, ditambah wacom tablet dan perangkat workstation Apple Mac. Sarannya bagi para matte painter pemula adalah untuk mempelajari seni lukis dan gambar tradisional, tak hanya menggabungkan foto tanpa komposisi dan perspektif yang benar.

 

Sumber Foto: CG Channel

Tags: