Black Panther dan Wakanda sebagai Simbol Masa Depan

By Marnala Eros, May 9, 2018

Black Panther dan Wakanda sebagai Simbol Masa Depan

Tujuh belas film pertama dalam Marvel Cinematic Universe menampilkan tokoh utama berupa pahlawan super berkulit putih. Pada 2018, akhirnya kesempatan unjuk gigi tiba bagi bangsa di luar Kaukasia.

Black Panther didapuk sebagai superhero ke-9 yang dibuatkan film sendiri oleh semesta Marvel. Ryan Coogler - dikenal lewat Fruitvale Station dan Creed - dipercaya mengarahkan proyek superhero pertama yang penulis, kru produksi, dan para pemerannya mayoritas berkulit hitam. Coogler sadar peluang macam ini merupakan kemewahan bagi rasnya, maka ia tidak menyia-nyiakannya. Mengusung konsep Afrofuturisme, Black Panther menyodorkan alternatif masa depan Afrika dalam bidang seni, sains, dan teknologi dilihat dari kacamata kulit hitam dengan Wakanda sebagai manifestasinya.

Debut Black Panther sebagai pahlawan super kulit hitam pertama Marvel terjadi 52 tahun silam dalam komik Fantastic Four #52, diciptakan oleh duet maut Stan Lee & Jack Kirby. Pada 1972 namanya sempat berubah menjadi The Black Leopard dalam Fantastic Four #119, bersamaan dengan mencuatnya gerakan partai politik radikal bernama serupa. Mengutip tulisan Brent Staples di New York Times, selama dua dekade T'Challa terkubur, hingga pada 1998 Marvel mengalami kesulitan finansial lantas menawarkan Christopher Priest - komikus berkulit hitam - guna merevitalisasi Black Panther.

Lompat ke 2018, kita mengenal T'Challa sebagai karakter raja berjiwa pemimpin dan diplomatis, bukan sekadar superhero pembela panji kebaikan. Imaji tersebut tak lepas dari kontribusi Priest yang awalnya ngeri menerima tugas re-branding karena merasa sudah tidak ada lagi yang membaca komik Black Panther.

Cerita filmnya sendiri berpusar di sekitar T'Challa yang usai kematian ayahnya - raja Wakanda - mesti pulang ke kampung halamannya, sebuah negara fiktif di daratan Afrika yang punya teknologi paling maju di dunia berkat logam istimewa bernama vibranium. Metal multi-fungsi tersebut membuat Wakanda dapat membangun gedung pencakar langit, kereta cepat, pesawat canggih, kostum Black Panther serta membuat T'Challa sosok paling kaya di semesta Marvel. Dirinya didukung ibunda sendiri yang mantan ratu, Nakia bekas pacar yang bergerak di intelijen, Shuri sang adik yang konon peneliti paling cerdas dan Okoye yang memimpin pasukan khusus Dora Milaje.

Namun tak seru jika tiada aral melintang. Kepemimpinan T'Challa diuji oleh keberadaan Erik "Killmonger" Stevens yang punya hasrat membara menduduki tahta Wakanda; model persona yang punya pandangan sendiri mengenai arah dan tujuan tanah asalnya sebagai bangsa besar, serta tokoh yang dapat membuat T'Challa mengubah perspektif turun temurun. Fakta bahwa Wakanda menutup diri dari dunia luar dan ogah membagi kekayaannya ditantang habis-habisan oleh Killmonger.

Dengan licin Coogler menggunakan Black Panther sebagai alat politis guna menggeser perspektif mengenai representasi orang keturunan Afrika yang dari dulu sering digambarkan dekat dengan kemiskinan, kekerasan, dan kriminalitas. Patut digarisbawahi jika stereotip itu tidak baku. Kenapa penting? Karena visual macam inilah yang dikonsumsi anak kecil yang adalah target pasar utama film-film superhero. Sedikit mengaitkan kesenjangan antara fiksi dan dunia nyata, terbukti belakangan ini kita melihat sendiri di berita kalau pria kulit putih juga bisa jadi teroris.

Diskusi mengenai Black Panther pun tidak cukup berkutat di sekitar film dengan pendapatan tertinggi yang digarap oleh sutradara kulit hitam, namun lebih dari itu, memberi imaji alternatif yang memunculkan harapan. Dunia yang sedang kusut ini butuh utopia tidak biasa. Bahwa bangsa yang selama ini tertindas bisa jadi kaum yang akan menyelamatkanmu.

Manohla Dargis, kritikus film New York Times, menyebutkan bahwa Black Panther sudah menjadi lambang masa lalu yang semakin terpinggirkan dan merupakan masa depan yang terasa sangat sekarang.

Menengok Amerika Serikat sendiri sebagai sumbu kehebohan ini, menarik meninjaunya dari sisi sosio-ekonomi. Mengutip Vox, dari total 323 juta penduduk AS yang tercatat dalam sensus, menunjukkan jumlah angka penduduk minoritas non-kulit putih yang mencapai 38%. Lebih dari sepertiga dan perlahan pasti grafik terus menanjak menuju 50%. Tetapi persoalannya, menurut studi Departemen Sosiologi UCLA, hanya satu dari 10 film major (dibuat oleh studio besar) disutradarai oleh minoritas. Lebih jauh lagi, para pemangku kepentingan di industri yang terdiri dari eksekutif, produser, aktor utama, penulis, pihak penyiar, dan agensi masih dikuasai mayoritas kulit putih. Kamu bisa saja mengaku objektif, namun bias akan selalu ada.

Artinya, budaya yang ditampilkan di film tidak mencerminkan populasi, atau kalimat lainnya: jumlah permintaan lebih besar dari persediaan yang ada. Maka fenomena Black Panther sungguh wajar. Ibaratnya, kamu menyaksikan orang di layar yang tak jauh berbeda dari orang yang kamu temui sehari-hari.

Black Panther semakin melapangkan jalan bagi diversifikasi film-film besar industri di depan nanti. Kita sudah melihat Bruce Wayne, sekarang momennya T'Challa, dan akankah ada kesempatan bagi ras lain di luar mereka suatu hari nanti?

 

Sumber Foto: Wired