'Balik Jakarta', Upaya Jason Iskandar Melestarikan Kebun Manusia

By Marnala Eros, Jul 14, 2017

'Balik Jakarta', Upaya Jason Iskandar Melestarikan Kebun Manusia

Togar (Yoga Mohamad) seorang sarjana muda yang mesti narik ojeg guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada suatu siang yang malamnya akan ada pertandingan Jerman vs Polandia, ia menerima tawaran Günther (Frederik Neust), bule arya yang bermodalkan secarik foto hendak menelusuri rumah masa kecilnya di daerah Kebayoran, Jakarta. Tanpa alamat jelas, Togar meyakinkan Gunther bahwa dia orang yang tepat guna mendampinginya melakukan pencarian.

Gunther sekarang tinggal di Aachen yang merupakan kota tempat bekas Presiden B.J. Habibie bersekolah hingga menjadi jenius teknologi paling terkenal dari Indonesia. Sudah dua puluh tahun berlalu sejak dirinya bermain di pekarangan rumah yang kini ia cari. Setelah menyelesaikan kuliah akuntansi, Togar memanfaatkan motor pemberian emaknya - ditempeli stiker cicak yang adalah simbol kesukuan - demi bertahan dari kerasnya terpaan perkotaan. Lima tahun dia tidak bertatap muka dengan ibunda.

Di atas 'motor bebek' yang membawa mereka masuk ke gang-gang sempit khas ibukota, tampak Gunther mulai tidak nyaman. Mungkin bokongnya telah merasa tepos, di saat bersamaan sadar kalau bisa jadi itu memang opsi terbaik. Mencari memakai taksi sama saja dengan bunuh diri perlahan, karena kita tahu bersama kemacetan selalu setia mengancam.

Tak cuma panas terik dan sorotan mata warga dengan celetukan biasa, "Eh ada bule lewat!", perjalanan mereka turut diwarnai mogoknya kendaraan. Ketika Gunther mulai putus asa, ternyata masalah tak lebih dari, hmmm, bagaimana kalau kamu saksikan sendiri?

Baru-baru ini penulis-sutradara Jason Iskandar dan Produser Florence Giovani, mengunggah 'Balik Jakarta' di YouTube, proyek film pendek produksi tahun silam hasil kerjasama Kedutaan Besar Jerman dengan Studio Antelope, didukung oleh PT. Solusi Data Mandiri.

Di sini kita disuguhi pemandangan kota yang menurut Jason dalam pernyataan resminya "penuh dengan 'ledakan-ledakan' yang jenaka dan mengasyikkan." Terdapat perpaduan unik yang membawanya tak bosan mengeksplorasi salah satu kota terpadat di dunia yang dijuluki The Big Durian ini. "Menjengkelkan karena kota ini memiliki segudang masalah yang menguji kita. Namun, kedua hal 'pahit-manis' ini justru membuat saya semakin menyukai Jakarta, atau setidaknya semakin perduli dengannya."

Layaknya Gunther, kita pun seperti ikut serta dibonceng Togar melewati jalan-jalan kecil dengan berbagai "aksesoris" macam warung-warung kelontong, jualan cendol, pangkas rambut, hingga jalan yang ditutup karena sedang ada hajatan. Sungguh Jakarta.

Namun kota sibuk yang terkesan apatis dan arogan ini tak selamanya berlaku seperti itu. Dalam sebuah adegan terlihat seorang bapak tua yang dengan ikhlas menawarkan bantuan kepada Togar saat motornya mogok. Jason ingin menyampaikan bahwa masih ada secercah kehangatan dalam derasnya kehidupan urban.

"Saya berharap film ini bisa menjadi potret tentang kota yang jujur dan hangat. Jujur tidak hanya dalam cara bertutur, tetapi juga dalam menampilkan situasi-situasi ‘pahit-manis’ yang lazim terjadi di Jakarta setiap hari. Sementara itu, inti utama cerita, yakni proses pencarian yang tersisa di tengah gerusan pembangunan kota, dapat menjadi satu cerita yang mengharukan dan jenaka di saat yang bersamaan. Sebab begitulah Jakarta yang kita kenal," pungkas Jason.

'Balik Jakarta' pun menjadi cerminan atas nostalgia yang memakan porsi besar dalam hidup manusia. Bahwa kita tak lepas dari rekonstruksi memori yang sering kita perjuangkan, tak peduli sudah tergerus waktu atau dalam hal ini, bangunan tua yang tergerus pembangunan. Namun terkadang kenangan bisa menjadi sumbu untuk terus berimajinasi, bukan? Sepakat dengan Katherine Anne Porter, penulis-jurnalis pemenang Pulitzer bahwa "masa lalu tidak pernah berada di tempat yang kamu kira kamu tinggalkan," namun itu pula yang dapat menjadi senjata, membawa kita berjalan lebih jauh.

Jadi, langsung simak filmnya di bawah ini. Alternate ending-nya ada, tapi itu kami serahkan kepada kalian saja untuk mencari sendiri. Beruntunglah kita diberi pilihan untuk mengakhiri. Selamat menonton.