Bagaimana Cara Meningkatkan Penjualan dengan Video?

By Marnala Eros, Sep 30, 2016

Bagaimana Cara Meningkatkan Penjualan dengan Video?
Dewasa ini konsumen menghabiskan lebih banyak waktu menonton video digital. Jika sebelumnya para pemasar mengandalkan televisi untuk menjual produknya, sekarang media internet telah mengambil alih tahta saluran iklan. Terutama melalui video. Media yang satu ini memang secara alamiah lebih mudah diproses otak manusia 60 ribu kali lebih cepat dari teks.
 
Menurut agensi EyeWideDigital, memasang video di situs Anda dapat meningkatkan conversion rate hingga 80%. Belum lagi statistik terbaru (per Desember 2015) yang sangat membuka mata terhadap prospek digital di Indonesia:
  • Ada 83 juta orang pengguna internet di Indonesia
  • 9 dari 10 orang Indonesia memakai smartphone untuk online (93%)
  • 80 juta orang Indonesia merupakan pengguna aktif Facebook (populasi Facebook terbanyak keempat di dunia)
  • Ada 26 juta orang pengguna Twitter (dengan 385 twit per detik, Jakarta adalah kota dengan keaktifan Twitter tertinggi di dunia)
  • 95% masyarakat internet Indonesia menggunakan media sosial sebagai aktivitas online utama mereka
  • Ada 30 juta remaja Indonesia yang secara reguler menggunakan internet
Semuanya dirangkum McKinsey dengan simpulan yang membuat mata silau: Bersama internet dan modal populasi yang besar, pada 2030 nanti Indonesia diprediksi akan menjadi ekonomi terbesar nomor 7, melewati Inggris Raya dan Jerman (sekarang masih di posisi 16).
 
Hati-hati terhadap pergerakanmu di kolam digital. Konsumen hari ini mencari informasi soal produk di berbagai platform, ulasan, dan menanyakannya kepada kerabat dekat mereka. Jika dulu televisi secara linear mempromosikan produk Anda, sekarang konsumen punya akses lebih dan kendali utama. Yang menarik, 64% konsumen akan membeli sebuah produk atau mendaftar ke suatu layanan setelah menonton branded video. Survey juga menunjukkan kalau 50% transaksi eCommerce terjadi dengan menggunakan telepon genggam. Artinya? Anda harus mengolah kreativitas dalam memanfaatkan multi-saluran yang disebut sebagai omni-channel ini.
 
Ada banyak cara dalam memanfaatkan omni-channel, namun setidaknya Anda harus menaruh perhatian terhadap empat C dalam content marketing, 4 hal pokok yang telah disusun oleh penyedia statistik online Ooyala. Mereka telah bekerjasama dengan sejumlah broadcaster global, perusahaan media, dan para retailer, sehingga lebih dari pantas untuk dipercaya. Berikut empat C tersebut:
 
1. Capture
 
Capture (tangkaplah) ketertarikan dan imajinasi konsumen Anda dengan ramuan video online yang baik. Kenapa video online? Karena pemasar mendapat kesempatan guna menyajikan dampak dan keuntungan emosional ala televisi yang dikombinasikan dengan ajakan untuk berbuat secara spesifik dalam platform yang digunakan.
Video punya kemampuan mendorong konsumen untuk berbuat, terhubung dengan sebuah produk/brand, menyebarkan aksi sosial, dan rekomendasi produk. Video sangat engaging dan cara paling efektif dalam membangun hubungan dengan konsumen.
 
2. Connect
 
Sekarang ini konsumen punya kuasa atas bagaimana, kapan, dan di mana mereka mengonsumsi konten dan penting untuk menemukan mereka di manapun tempatnya. Mereka selalu memegang smartphone, tablet, dan mereka belanja di manapun, sehingga brand Anda harus dapat diakses oleh seluruh alat tersebut. Tapi strategi cross device tidak cukup. Anda perlu strategi cross platfform di mana platform online dan platform media sosial Anda bekerja secara sinergi.
 
3. Convert
 
Ketika Anda telah menangkap perhatian dan ketertarikan konsumen, penting untuk menyiptakan lingkungan yang mendukung di mana ketertarikan mereka dapat dikonversi secara mudah menjadi sebuah pembelian. Tambahkan fitur click-to-purchase ke dalam video Anda seperti tombol "Beli Sekarang" yang dapat mengubah engagement menjadi penjualan. Suatu cara yang halus dan tidak invasif.
 
4. Continuously Measure
 
Salah seorang pionir marketing John Wanamaker pernah berkata, "Setengah jumlah uang yang saya habiskan untuk iklan hangus begitu saja, masalahnya saya tidak tahu itu bagian setengah yang mana."
Kini data analitik mengizinkan kita untuk mengukur video mana yang bekerja dan mengubah strategi konten untuk memastikan tiap bagian menuju objektif marketing. Sangat penting mempelajari tentang resonasi konten, mengenai konsumen dan device apa yang mereka pakai. Seorang konsumen dapat melihat iklan di smartphone-nya pada pagi hari, dan melihat video produk di komputer/laptop mereka pada siang sewaktu bekerja, kemudian membelinya dengan memakai iPad saat malam tiba. Seluruh informasi ini dapat menolong Anda untuk berpindah cepat dari 'capturing/menangkap' ke mengonversinya menjadi pembeli.
 
 
Sumber Foto: Malay Mail Online
Tags: Video