Apa yang Dapat Diharapkan dari Sundance 2018?

By Marnala Eros, May 9, 2018

Apa yang Dapat Diharapkan dari Sundance 2018?

Sundance berawal di Salt Lake City pada 1978 sebagai U.S. Film Festival. Semula bertujuan agar negara bagian Utah punya sesuatu yang dapat menarik perhatian para pembuat film. Edisi perdana berfokus pada film-film Amerika klasik, dengan beberapa penghargaan diberikan kepada karya-karya baru. Tapi ketiadaan dana membuat festival harus absen di tahun berikutnya. Barulah pada 1980 penyelenggara memindahkan acara ke Park City dengan asumsi bila mementaskannya di resor ski pada musim dingin bakal membantu menghimpun penonton.

Dari U.S. Film Festival berubah menjadi Utah/U.S. Film Festival lalu ke United States Film & Video Festival baru, kemudian sempat disebut Sundance/United States Film Festival hingga akhirnya evolusi berakhir di Sundance. Dua nama terakhir muncul saat Sundance Institute yang dipimpin Robert Redford mengambil alih festival pada 1985. Inspirasi nama Sundance berasal dari karakter yang pernah diperankannya dalam Butch Cassidy and the Sundance Kid. Akuisisi Sundance lantas membuat festival semakin diperhatikan publik, industri, dan pers, memancing lebih banyak orang untuk datang, serta meluasnya kategori penghargaan.

Perlahan Sundance dipandang sebagai arena inkubator film-film independen yang akan didistribusikan oleh studio besar guna bersaing di box-office serta melaju ke ajang penghargaan. Quentin Tarantino menerima pendanaan dan dukungan kreatif dari Sundance Institute untuk debut Reservoir Dogs. Hasilnya? Film tersebut meraup $2,8 juta di box-office. Kini ia merupakan salah seorang auteur paling sukses dari generasinya. The Blair Witch Project yang hanya memakan anggaran $60 ribu, diproduseri dua kawan lama jaman kuliah yang sudah berusia 30an dibeli seharga $1 juta usai tayang di Sundance 1999; berakhir dengan $248 juta di seluruh dunia.

Sejumlah film, sutradara, dan aktor yang berhasil melejit berkat Sundance di antaranya Christopher Nolan (Memento), Jennifer Lawrence (Winter's Bone), Duncan Jones (Moon), Coen bersaudara (Blood Simple), David Gordon Green (All the Real Girls), Maggie Gyllenhaal (Secretary), Little Miss Sunshine, The Usual Suspects, (500) Days of Summer, Whiplash, Napoleon Dynamite, Clerks, The Babadook, American Psycho, Man on Wire, The Raid 2, Garden State, Animal Kingdom, El Mariachi, Four Weddings and a Funeral, Before Sunrise, Manchester by the Sea, Get Out, sampai yang terbaru Call Me by Your Name.

Daftarnya bisa semakin panjang bila semakin ditelaah. Kini Sundance bukan hanya tempat untuk para pembuat film muda , namun semakin banyak nama-nama senior yang merilis karya terbarunya di Park City. Tak cuma perkembangan vertikal, Sundance pun meluas secara horizontal.

Menurut organisasi non-profit Sundance Institute, tahun lalu Sundance Film Festival yang berlangsung di Park City, Salt Lake City, dan Sundance sukses mengumpulkan penonton yang berasal dari 46 negara bagian Amerika dan 18 negara asing dengan impak ekonomi sebesar $151 juta. Angka ini berasal dari ekonomi independen dan studi demografi yang diadakan oleh Y2 Analytics dengan menggunakan metodologi serta teknologi terkini guna memberi gambaran besar mengenai ekonomi Utah. Pemasukannya berasal dari pajak, pekerjaan lepas, dan puluhan ribu pengunjung. Dampak ekonomi dan jumlah pengunjung yang mencapai 71 ribu kepala pun mencetak rekor baru untuk Sundance.

Film-film berkualitas, sudah dan biasanya wajib. Peningkatan ekonomi, checklist. Lalu apa lagi? Karena pada dasarnya manusia tidak boleh puas dan harus terus berkembang, jadilah ada beberapa harapan dan titik perhatian yang kami kumpulkan dari USA Today, di antaranya:

1. Membaiknya Nasib Sutradara Wanita

Dari 122 film yang tayang di Sundance tahun ini, 37% disutradarai oleh wanita - meningkat 3% dari tahun lalu. Yang lebih menyenangkan, cukup banyak dari film-film itu yang memang menyodorkan cerita wanita: Dalam film arahan Jennifer Fox berjudul The Tale, Laura Dern memerankan wanita yang terpaksa mengingat kembali hubungan seks pertamanya serta dampak kepada kehidupannya. Desiree Akhavan menyutradarai Chloe Grace Moretz dan Sasha Lane dalam drama tentang konversi untuk tidak menjadi gay, The Miseducation of Cameron Post. Rey alias Daisy Ridley keluar dari zona nyamannya dengan drama berbasis Hamlet-nya Shakespeare yaitu Ophelia. Sedangkan sutradara pemenang Emmy, Reed Morano, maju ke Sundance dengan I Think We're Alone Now yang dibintangi Peter Dinklage dan Elle Fanning sebagai dua orang yang menyadari kalau cuma mereka manusia yang hidup di daerahnya, atau mungkin di dunia.

Kalau sudah puas dan mungkin menuju bosan dengan cerita dari sudut pandang pria, film-film di atas merupakan angin segar yang patut ditandai dan ditunggu di tahun ini.

2. Pergerakan Time's Up dan #MeToo

Kalau sehari-hari kamu tidak absen menatap kabar dunia dari layar kaca, kemungkinan besar mengetahui gelombang tuduhan pelecehan seksual yang terkandung dalam frase seperti Time's Up dan #MeToo. Tiap sudut Hollywood tak lepas dari isu ini; yang terakhir di Golden Globes kemarin. Akan banyak pembuat film dan aktor yang melanjutkan tentang dialog tersebut di festival film besar, terlebih sejak kejatuhan Harvey Weinstein akhir tahun silam (dia senior di Sundance).

Pada Sabtu (20/1) lalu ketika Women's March berlangsung di berbagai penjuru, hal serupa terjadi di Sundance di mana Jane Fonda, Tessa Thompson, dan banyak lagi meneriakkan perlawanan terhadap lelaki terkenal dan berkuasa, contohnya... Presiden Trump. Pesannya masih sama dengan tahun kemarin: Ajakan untuk bertoleransi, perlawanan terhadap kekerasan kepada wanita, serta penolakan atas tindakan rasis.

3. Streaming sebagai Masa Depan?

pada 2017 komedi gelap I Don't Feel at Home in This World Anymore dianugerahi Grand Jury Prize, tapi seolah terlupakan sebulan kemudian saat rilis di Netflix. To the Bone dan Casting JonBenet juga menjadi kesayangan Sundance, namun terkubur di layanan streaming. Namun apakah kali ini para pembuat film akan memilih Amazon, yang tahun lalu mengambil The Big Sick dan menjadi sleeper hit ($42 juta) pada musim panas? Menarik untuk disaksikan.

4. Apa lagi Keanehan yang Muncul dari Sundance?

Rasanya tak lengkap membahas Sundance tanpa membicarakan film. Tahun lalu Rooney Mara memakan seluruh pie secara binge dalam A Ghost Story. Tahun sebelumnya Paul Dano memakai kentut mayat Daniel Radcliffe sebagai speedboat. Sundance merupakan arena film independen dengan karakter aneh dan susah seharusnya tradisi tersebut lestari.

Mandy menawarkan thriller berdarah dengan Nicolas Cage sebagai lelaki pendendam yang berburu sekte religius yang membunuh cinta sejatinya. Komedi sci-fi Sorry to Bother You menampilkan Lakeith Stanfield sebagai telemarketer yang menemukan kunci ajaib menuju kesuksesan. Dia bermain bersama Tessa Thompson dan Armie Hammer (karakternya dideskripsikan sebagai CEO pendengus kokain dan penyelenggara orgy).

Don't Worry, He Won't Get Far on Foot patut diwaspadai. Disutradarai Gus Van Sant, drama komedi kisah nyata ini mengisahkan tentang kartunis John Callahan (Joaquin Phoenix) yang sejak lumpuh akibat kecelakaan, berjuang untuk sober dan mengeksplorasi seni yang lantas menyelamatkan hidupnya. Jonah Hill semakin menjadi-jadi di sini.

Masih banyak film-film Sundance 2018 yang tidak tersebutkan di sini yang berarti masih banyak pula permata tersembunyi, termasuk Wildlife, debut penyutradaraan Paul Dano dan dibintangi duet Carey Mulligan-Jake Gyllenhaal, juga ada Juliet, Naked yang dimainkan oleh Ethan Hawke bersama Rose Byrne dan Chris O'Dowd dari adaptasi novel Nick Hornby. Debra Granik yang pada 2010 mencuatkan Jennifer Lawrence berkat Winter's Bone turut kembali ke Sundance melalui Leave No Trace.

Ketika Januari kelar, film-film Sundance yang layak tonton akan memekar. Selamat merayakan kebebasan!

 

Sumber Foto: Collider

Tags: Sundance