Apa Kabar Film Pendek Indonesia?

By Marnala Eros, Apr 7, 2016

Apa Kabar Film Pendek Indonesia?

Perkembangan kamera digital yang makin terjangkau harganya, ditopang dengan semakin memasyarakatnya media penyimpanan video online semacam YouTube, seolah menjadi sebuah kolaborasi manis yang memicu orang untuk membuat video dan mempublikasikannya. Entah berapa banyak video yang diunggah tiap harinya, mulai dari video hasil iseng menggunakan kamera handphone sampai video film pendek yang dibuat sepenuh hati, bisa kita lihat setiap hari.

YouTube setidaknya bisa menjadi media paling simpel untuk para pembuat film pendek mempublikasikan karyanya, dari pada hanya disimpan dalam hardisk tanpa ada yang menikmati. 

Tapi kenapa juga sih, orang mau membuat film pendek? Di beberapa komunitas penggiat film, biasanya orang yang bikin film pendek adalah siswa atau mahasiswa jurusan multimedia atau sinematografi yang membuatnya untuk keperluan tugas akhir. Ada juga yang membuat fim pendek sebagai batu loncatan untuk menjadi sutradara layar lebar atau film iklan misalnya, yang lebih menjanjikan dari segi materi. Tapi ada juga yang membuat film pendek karena takut resah, seperti Sidi Saleh yang meraih Orrizonti Award di Venice International Film Festival ke-71 tahun 2014 lalu lewat film pendeknya berjudul Maryam.

"Gue merasa yang gue bisa itu bikin film, tapi kalau gue nggak bikin film, ya pasti gue dalam kondisi yang tidak nyaman. Ketika gue bikin film pendek artinya gue menyalurkan apa yang menjadi keresahan gue..," ujarnya seperti dilansir Muvila.

Sementara Edwin, sutradara film pendek Kara, Anak Sebatang Pohon, memberi alasan yang lebih serius. "Film pendek adalah nyawa dan bahan bakar yang memutar mesin industri perfilman. Sejak awal film diciptakan sekitar 100 tahun yang lalu, hingga detik ini, film pendek belum kehilangan apinya," ungkap sutradara yang banyak menuai penghargaan di ajang festival internasional tersebut. 

Kebanyakan film pendek hanya beredar di festival-festival, baik nasional maupun internasional. Atau acara khusus yang memang bertujuan untuk memutar film-fim pendek diselingi dialog dengan para pembuatnya, seperti Bioskop Keliling misalnya. Lulu Ratna, dari komunitas film Boemboe menyatakan film pendek belum punya nilai jual. "Film pendek masih dianggap belum punya nilai jual. Lagi pula, belum ada pendataan film pendek apa saja yang sudah diproduksi di Indonesia selama ini," kata Lulu Ratna di Femina.

Hal unik lain dari film pendek, menurut Lulu, adalah semangat independennya. Karena dari awal tidak dibuat untuk produk komersial, film pendek biasanya lebih bebas dan liar imajinasinya. "Kalau kita melihat buku pedoman penjurian festival film Indonesia, film pendek adalah film yang tidak perlu disensor. Film pendek punya kebebasan mutlak, tapi di sisi lain, tidak ada pengakuan. Padahal, film pendek itu sama pentingnya dengan film panjang," ungkapnya lagi.

Selain media pemutaran film pendek yang sangat terbatas, hal lainnya yang dikeluhkan para pembuat film pendek adalah terbatasnya dukungan dana untuk pembuatan film tersebut. Seperti yang dialami Sidi dan produsernya Amalia Trisnasari. Mereka harus mengeluarkan biaya dari kocek pribadi untuk film yang akan mereka buat. Untuk menyiasati masalah biaya, mereka harus shooting di tengah acara keramaian yang memang sedang dilaksanakan oleh masyarakat, seperti pas misa Natal atau malam takbiran. Dengan begitu mereka tak harus mengeluarkan biaya untuk setting lokasi, misalnya.

Namun mungkin ada jalan tengah lainnya yang bisa ditempuh sebagai alternatif pembiayaan, misalnya dengan mencari sponsor, seperti yang dilakukan oleh sutradara Hairil Saleh dengan film pendeknya berjudul Penjaga Cahaya. Film yang mengisahkan penjaga menara suar tersebut sebetulnya merupakan video profile yang dipesan oleh Divisi Navigasi Laut Distrik Tanjung Priok. Namun karena tidak ingin membuat video profile yang biasa-biasa saja, maka akhirnya diputuskan membuatnya menjadi sebuah film pendek. Memang tema yang ditentukan menjadi sangat spesifik sesuai yang diinginkan klien, tapi dari sisi treatment sutradara masih punya kebebasan penuh. Dan yang terpenting tak perlu pusing memikirkan biaya. Atau malah bisa juga seperti drama pendek Ada Apa Dengan Cinta? versi 2014 yang meraih sukses besar secara viral dengan disponsori oleh aplikasi LINE. 

Kesuksesan film pendek AADC 2014 tak lepas dari platform semacam YouTube dan Facebook yang memudahkan proses penyebarannnya. Berita apapun yang menarik bagi netizen, akan cepat tersebar, secepat api menyambar bensin. Sebuah video yang sangat menarik perhatian bisa berpindah ribuan, puluhan ribu, atau bahkan ratusan ribu kali dari satu akun ke akun lainnya hanya dalam hitungan hari. Sungguh sebuah media yang potensial sebagai tempat untuk mempromosikan sebuah produk. Dengan demikian menjadi sebuah tantangan bagi pembuat film pendek untuk bisa menciptakan karya yang sangat menarik, bukan hanya bagi penonton, tapi juga bagi calon pemasang iklan.

 

Referensi:

http://lifestyle.bisnis.com/read/20151114/254/491801/film-pendek-masih-belum-populer-di-indonesia

http://www.femina.co.id/article/film-pendek-nyaris-tak-terdengar

http://www.muvila.com/film/artikel/sidi-saleh-buat-film-pendek-agar-tak-jadi-bisul-1501205.html

 

Sumber Foto: Cinema Poetica

Tags: