6 Ujian yang Harus Dihadapi Sutradara dan Penulis Film di Indonesia

By Marnala Eros, Mar 17, 2016

6 Ujian yang Harus Dihadapi Sutradara dan Penulis Film di Indonesia

Industri Perfilman di Indonesia berkembang dengan pesat beberapa tahun belakangan ini. Hal tersebut bisa dilihat dari semakin banyaknya jumlah judul film yang diproduksi, dengan genre yang lebih variatif. Namun apakah hal tersebut berbanding lurus dengan peningkatan kualitas dari film-film tersebut? Apakah karir sutradara ikut berkembang dengan meningkatnya jumlah produksi film tersebut?

Banyak sutradara atau penulis naskah yang memperoleh respon positif melalui film-filmnya, dan menjadikan mereka sebagai sutradara dan penulis yang sukses, namun tak sedikit juga yang mengalami kegagalan dikarenakan minimnya jumlah penonton film-film mereka. Mengapa sebuah film bisa mendapatkan banyak penonton, yang otomatis menjadikannya sebuah film yang sukses memperoleh keuntungan finansial, sementara yang lain justru gagal?

Ada beberapa faktor yang menentukan berhasil atau gagalnya sebuah film di Indonesia.

  • Jumlah Layar Bioskop yang Terbatas

Dengan jumlah kurang lebih 1.000 layar di jaringan cineplex nasional, sebuah film nasional harus berkompetisi dengan film asing dan film nasional lainnya.

  • Masa Tayang yang Pendek

Sebanyak 119 film nasional tayang pada tahun 2015. Lebih dari 2 film tayang pada setiap minggunya. Dengan jumlah layar yang terbatas, masa tayang di cineplex nasional sangatlah pendek.

  • Terbatasnya Biaya Produksi

Hal ini mendesak produser-produser film Indonesia untuk lebih menekan biaya produksi untuk meminimalisir resiko yang mereka investasikan. Seiring dengan faktor tersebut, kualitas dari film pun sangat terpengaruh.

  • Kurang Berkembangnya Ide-ide Baru

Meminimalisasi resiko juga mempengaruhi keinginan para produser untuk bereksperimen dengan content atau ide-ide yang baru. Oleh karena itu, ide-ide kreatif baru dari filmmakers sulit untuk diterima oleh Produser film Indonesia.

  • Kurang Optimalnya Dukungan Industri televisi

Industri Televisi sebagai pasar terbesar kedua bagi film nasional juga tersekat oleh struktur yang mengikat.

  • Maraknya Pembajakan DVD

Industri DVD untuk film nasional sangat tidak berarti dikarenakan maraknya pembajakan film di Indonesia.

Dari enam poin di atas, bisa terlihat bahwa persaingan film di bioskop, televisi dan media DVD sangat ketat, namun justru ada media alternatif lain yang justru membuka peluang sangat luas bagi mereka yang ingin membuat film, yaitu media digital dan online.

“There’ll be big movies on a big screen, and it’ll cost them a lot of money. Everything else will be on a small screen. It’s almost that way now. ‘Lincoln’ and ‘Red Tails’ barely got into theaters. You’re talking about Steven Spielberg and George Lucas can’t get their movies into theaters. Both see “quirky” or more personal content migrating to streaming video-on-demand, where niche audiences can be aggregated. “What used to be the movie business, in which I include television and movies … will be Internet television,” kata Lucas.

 

 

Referensi:

http://variety.com/2013/digital/news/lucas-spielberg-on-future-of-entertainment-1200496241/

 

Sumber Foto: Daily Oktagon

Tags: