5 Film Indonesia Alumni JAFF 2016 yang Patut Anda Saksikan

By Marnala Eros, Dec 20, 2016

5 Film Indonesia Alumni JAFF 2016 yang Patut Anda Saksikan
Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-11 telah ditutup pada awal bulan ini (3/12). Sebanyak 138 film dari 27 negara bertemu dengan para penonton yang menurut Ifa Isfansyah selaku Direktur Eksekutif JAFF berjumlah sekitar 7.500 orang selama enam hari penyelenggaraan.
 
Para pemenang festival yang difokuskan untuk pengembangan perfilman di Asia telah diumumkan. Film Istirahatlah Kata-Kata garapan Yosep Anggi Noen dianugerahi Golden Hanoman Award yang merupakan penghargaan untuk film Asia terbaik pertama, sementara film Asia terbaik kedua Silver Hanoman Award jatuh kepada The Island Funeral arahan sutradara Thailand, Pimpaka Towira.
 
Tahun ini tuan rumah mendominasi festival film terbesar tanah air jika mengacu pada rangkaian program dan jumlah pengunjung. Film nasional menjadi raja di tanah sendiri. Dari enam kategori, ada lima penghargaan yang disabet oleh film Indonesia, termasuk Turah karya Wicaksono Wisnu Legowo yang meraih NETPAC Award dan Geber Award, serta film pendek Memoria oleh Kamila Andini yang diganjar Blencong Award dan Jogja Student Film Award.
 
Pada edisi kali ini ada 60 film Indonesia yang diputar, terdiri dari 16 film panjang dan 44 film pendek yang ditayangkan di tiga lokasi utama: Gedung Societet, Empire XXI, dan Taman Budaya Yogyakarta. 
 
Selain film-film populer yang telah tayang luas seperti Athirah, Rudy Habibie, hingga Catatan Dodol Calon Dokter, ada sejumlah film Indonesia lain yang patut Anda saksikan ketika memasuki masa tayang nanti. Film-film ini merupakan arahan para sutradara berbakat (jika tau mau disebut muda), yang menandakan prospek sinema nasional yang terbentang cerah. Ketika Anda bosan dengan karya para pembuat film senior, inilah oase yang tak boleh Anda lewatkan begitu saja. Beberapa di antaranya sudah tayang di festival film luar negeri. Jadi kendati ada yang statusnya film lokal/daerah, kualitasnya kaliber internasional. Mirip-mirip Siti saja, yang didapuk sebagai Film Terbaik FFI 2015 kemarin.
 
Adakah "Siti"-"Siti" lainnya dalam daftar di bawah? Bisa jadi ya. Percaya dan imanilah bahwa mereka ini menyimpan potensi hebat. Saksikanlah jika memang ada kesempatan. Kalau penontonnya bukan kita, siapa lagi?
 
1. Turah

Film berbahasa Tegal karya sineas daerah setempat, Wicaksono Wisnu Legowo, yang menurut suara juri JAFF merupakan "sebuah pengalaman yang jarang ditemukan dalam film-film Indonesia, berbicara tentang warga ekonomi kelas rendah, namun tak terjebak dalam romantisasi persoalan kemiskinan". Produksi Fourcolours Films berdurasi 83 menit ini diangkat berdasarkan masalah sosial para warga di Kampung Tirang di pesisir pantai utara dekat pelabuhan Tegalsari, Tegal, dengan menggandeng para aktor teater, wartawan, dan masyarakat sekitar. Dua penghargaan di JAFF membuktikan Turah lebih dari pantas untuk Anda saksikan.

2. Istirahatlah Kata-Kata

"Orang-orang masa kini harus belajar dari cara seperti Wiji Thukul dalam memanfaatkan kata-kata, untuk menyuarakan ketertindasan, dengan kata-kata lugas, bermakna, dan juga dilatarbelakangi kekuatan intelektualitas yang tinggi. Tidak asal 'njeplak," ujar sutradara Yosep Anggi Noen mengenai relevansi film panjang keduanya dengan era keterbukaan teknologi informasi di mana semua orang kini dapat bebas berpendapat. Film ini mengambil latar sekitar dua tahun sebelum penyair dan aktivis anti Orde Baru tersebut hilang pada 1998. Sebelum memenangkan Golden Hanoman Award di JAFF 2016, Istirahatlah Kata-Kata sudah terlebih dulu wara-wiri di berbagai festival film internasional macam Locarno, Busan, dan Vladivostok. Akan tayang di bioskop nasional pada 19Januari 2017. Sudah siap?

3. Salawaku

Delapan nominasi Festival Film Indonesia 2016 dengan tiga kemenangan untuk Raihaanun (Pemeran Pembantu Wanita Terbaik), Elko Kastanya (Pemeran Anak Terbaik), dan Faozan Rizal (Pengarah Sinematografi) membuktikan kualitas yang tersimpan dalam film panjang perdana Pritagita Arianegara. Pada Apresiasi Film Indonesia 2016 Salawaku pun merebut penghargaan utama Apresiasi Film Cerita Panjang Bioskop. Salawaku yang diperankan Elko merupakan bocah laki-laki asal Pulau Seram yang kabur untuk mencari sang kakak, Binaiya (Raihaanun). Di perjalanan dia bertemu gadis asal Jakarta, Saras (Karina Salim), dan disusul oleh Kawanua (J-Flow) yang adalah kakak angkatnya. Tak disadari mereka menjauhi Piru, kota di mana kabarnya Binaiya berada. Apakah yang harus dilakukan Salawaku?

4. hUSh

Film kolaborasi Djenar Maesa Ayu dan sutradara Singapura, Kan Lume, yang mengisahkan tentang Cinta Ramlan, seorang penyanyi perempuan asal Bali yang mengadu peruntungan di Jakarta. Ketika dia putus dengan kekasihnya, Cinta pulang ke kampung halamannya. "Selama perjalanan pulang itulah banyak percakapan tentang masalah perempuan di sana, ngomongin tubuh juga," ungkap Djenar dalam sebuah wawancara. Film yang bergaya seolah nyata seperti dokumenter ini tidak akan tayang di bioskop karena persoalan sensor sehingga Anda harus menemukannya di ruang pemutaran alternatif. Pentas JAFF kemarin pun dijadikan Djenar sebagai arena penayangan perdana hUSh.

5. Ziarah

Di situs resminya Ziarah dideskripsikan sebagai film alternatif yang ditulis dan disutradarai oleh BW Purba Negara, berkisah tentang mbah Sri (nenek berusia 95 tahun) yang menempuh perjalanan guna menziarahi luka-luka masa lalunya yang ternyata simultan dengan luka-luka sejarah bangsa ini. Pada FFI 2016 Ziarah mendapat nominasi untuk Penulis Skenario Asli Terbaik. Sewaktu JAFF bergulir film ini juga merupakan salah satu film Indonesia yang ditambah jam putarnya karena antusiasme pengunjung yang tak terbendung. Apakah ini film untuk Anda?

Tags: